Nihan Ufaira Rizagana. Powered by Blogger.
facebook twitter instagram Email

Tepian Berawan

Senyumnya getir saat menatap dari kejauhan, kesayangannya yang paling ia banggakan. 

*** 

Sepertinya, aku terlahir dari ketakutanmu akan hidup. Kamu namai aku dengan nama keberanian yang kamu sandingkan dengan namamu. Mungkin karena kamu hidup dengan banyak ketakutan, dan kehadiranku membawa satu lagi hal untuk kamu khawatirkan seumur hidup. Doamu, agar aku dapat hidup dengan berani. 

Kamu bilang, aku kebanggaanmu. Sudah pandai membaca ketika predikat “balita” masih kugenggam. 

Namun, umurku belum genap satu tahun ketika krisis melanda negeri. Aku tebak kamu banyak merutuk di tengah carut-marut dan bayang-bayang “satu dolar sama dengan enam belas ribu”. Aku sedikit tahu sebab rutukanmu tidak serta-merta tuntas di atas meja kopi. Kamu menuangkannya dalam tulisan-tulisan yang diterbitkan koran. Kamu memaknai keberanian dan memastikan aku menyaksikannya. 

Aku menyaksikanmu. 

Lima tahun kemudian, kamu mengantarku yang sudah lumayan pandai membaca, menulis, dan berhitung itu masuk sekolah dasar. Krisis sialan itu ternyata bisa kita lalui berkat kamu. 

Ah, sekolah dasar. 

Semua orang tahu, kursi-kursi bus pariwisata itu selalu penuh oleh anak-anak dan ibu mereka. Namun di sisiku, kamu yang duduk di sana, memastikan aku tidak sendirian di karya wisata pertamaku. Menurutmu, harus tanganmu sendiri yang menjamin aku baik-baik saja. Dengan genggamanmu yang kasar dan terburu-buru, kamu antarkan aku ke sisi-sisi dunia yang belum pernah aku sambangi sebelumnya. 

Aku tahu kamu menahan diri, pada hari kamu melepasku ke ruang yang luput dari pengawasan matamu yang kurang tidur itu. Aku beranjak remaja, lalu menjadi dewasa, dan kamu tak lagi mampu memahami isi kepala perempuan yang paling ingin kamu jaga seluruh hidupnya itu. Kita menjadi asing dalam kasihmu yang tak kunjung redup. 

Dan kamu, masih, di hari-hari berikutnya, memastikan aku tidak sendirian. 

*** 

Tentang perempuan dan cinta pertamanya, yang selalu berbalas, beribu kali lipat. Cinta yang jarang ia sebut-sebut itu, diam-diam mekar paling lama. Ternyata, tak pernah sehari pun ia kekurangan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Teranglah, benderang, sampai menyilaukan. 

Meski bukan satu-dua kali manusia mengecilkan apimu dengan kasar, setelah usai menuai hangat dari pijarmu. Menjadikanmu pendar takut-takut yang berusaha menyusup di antara sela-sela dedaunan. Terpaksa kamu memulai kembali dengan susah-payah, sampai nyalamu kembali mampu menghangatkan ujung jemari yang dibuat membeku. 

Keras memang diciptakan kepalamu, agar tidak mudah dibawa arus lantas hilang arah. Sebab hatimu mudah tersentuh dan melunak. Setelah beberapa kali kamu izinkan manusia masuk, tapi malah dikoyaknya sampai tak berbentuk. Angkat kepalamu dan berbanggalah dengan kerasnya. 

Di tengah harap-harap dan doa yang setengah ragu kamu panjatkan kepada langit, dan segala pertanyaan yang harus kamu cari tahu sendiri jawabannya, semoga keberadaan Tuhan di hatimu tidak pernah hilang. 

Cinta yang aku miliki sangat sedikit, tapi semoga selalu bisa menjaga agar kantung hatimu tidak pernah kosong melompong. Semoga dalam sepi yang tak bisa kamu bagi dengan sesiapa, pendarku yang redup dan jauh mampu menyentuh gelapmu. Aku harap kamu tahu, selama jiwaku masih menyatu dengan tubuhnya, kamu tidak akan pernah sendirian. 

Aku harap kamu mau hidup untuk waktu yang sangat lama, karena pada akhirnya, kamu menemukan bahwa kehidupan yang sempat kamu benci dengan sepenuh hati, bisa kamu peluk erat dan kamu izinkan ia mendekapmu sampai lelap. 

Selamat ulang tahun, Deanisya. Serta mulia, kamu yang patut dirayakan.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Kamu tahu, tidak? Dari milyaran manusia di dunia, rata-rata kita hanya bertemu dengan 2.000 manusia lain sepanjang hidup. Di antara 2.000 manusia yang aku temui, kamu adalah satu yang aku syukuri kehadirannya. 

Bersama dunia yang sedang kedinginan karena hujan tak kunjung berhenti sedari pagi, kamu menghampiriku dengan segudang hangat. Mengajakku minum kopi dan mengobrol sampai larut seluruh rasa.  

Aku yang sedang tidak mampu, dan kamu yang bermaksud memampukan. 

Sayangnya, takdir-takdir baik tidak seluruhnya berpihak pada kita. Tanganku yang membeku, tak kunjung hangat disentuh olehmu. Isi kepala yang sedang penuh, tak mampu menampung petikan rasa yang kamu tutur dengan pelan. 

Aku memintamu pergi. 

Pada hari di mana benang-benang kusut dalam kepalaku terurai dan hangat matahari bisa masuk sehari sekali, aku memohon kepada semesta agar selalu berpihak kepadamu ketika duka terpaksa kamu tanggung sendiri. Aku memohon kepada bumi agar meringankan langkahmu menghampiri mimpi-mimpi yang sedang kamu lantunkan ke langit. 

Mampuku hari ini, pernah kamu usahakan. Jadi doaku saat ini adalah tentang kasih dan syukur yang belum sempat aku sampaikan kepada kamu kemarin, di hari aku memutuskan kisah kita selesai. 

*** 

Katanya, jangan menyakiti penulis sebab luka-luka akan abadi dalam tulisannya. Aku beri tahu kamu bahwa ada hal tidak menyakitkan yang juga akan abadi dalam tulisanku, misalnya lagu sumbang ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Menjadi dewasa ternyata tidak terlalu menyenangkan, ya. Pikirku saat kecil, "menjadi dewasa itu lebih enak, menjadi dewasa itu berarti bebas!" Dalam bayanganku dulu, dewasa itu menyenangkan karena bisa melakukan apapun dan tidak ada yang melarang. Sering juga aku menyaksikan para orang dewasa melakukan hal-hal yang asik, yang seru, yang bikin senang. Giliran aku minta hal yang sama, tidak boleh. Waktu itu, rasanya kesal sekali. Jadi anak kecil tidak enak, tidak bebas! 

Yang saat itu belum aku pahami adalah, hal-hal yang enak, yang seru, dan yang bikin senang itu punya konsekuensinya masing-masing. Dulu aku berpikir, makan permen banyak-banyak itu enak, tapi orang dewasa malah membatasi, bilangnya bikin sakit tenggorokan, bikin gigi rusak. Biar saja, toh kalau sakit, ada Ibu dan Ayah yang merawat. Saat masih kanak-kanak, kebanyakan konsekuensi yang harus diterima masih ditanggung oleh orang tua. Yang orang dewasa sering lupa bilang (atau versi kanak-kanak kita yang sepertinya tidak mau dengar), bahwa suatu hari, ketika kita akhirnya menjadi dewasa, semua konsekuensi hidup, kita sendiri yang tanggung. Seluruhnya. 

(Sekarang, sudah dewasa begini, lihat anak kecil main petak umpet sore-sore, kok kayaknya bebas banget, ya?) 

Bicara soal kebebasan, erat kaitannya dengan kebebasan memilih. Menjadi bebas berarti bebas melakukan apapun, bebas memilih mau melakukan apa sekarang, satu jam lagi, seharian ini, atau sebulan ini. Bebas. 

Lantas, kebebasan memilih, apakah benar-benar ada? 

Benar bahwa semua orang bebas memilih. Namun kembali lagi, ada konsekuensi atas pilihan yang kita buat. Kita mau pilih makan manis setiap hari, ada diabetes dan penyakit komplikasi lainnya menanti di masa tua. Kita mau pilih pola hidup sehat, ternyata olahraga melelahkan, konsistennya sulit, mau makan enak harus dibatasi, waktu tidur pun harus diatur. Memilih jenjang karir, memilih pendidikan, memilih pasangan hidup. Bahkan pilihan kecil seperti, makan apa siang ini, tetap ada konsekuensi yang mengekor. Iya, memilihnya bebas, konsekuensinya yang bikin nggak bebas. 

Betul, di dunia ini tidak ada yang benar-benar bebas. Kebebasan yang sempat kita andai-andaikan dulu, erat sekali berdampingan dengan konsekuensi yang mau tidak mau harus kita hadapi sebagai buah dari kebebasan pilihan yang kita buat. Konsekuensi menciptakan batasan yang menegasikan konsep dari kebebasan itu sendiri. Kesimpulannya, kebebasan mutlak itu tidak ada. Freedom. Is. Not. Free. 


Jadi, lebih bebas waktu sudah dewasa atau waktu masih anak-anak? 


*** 

Babak Dua: Belajar Bersyukur. Hahaha. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Mata perempuan itu berbinar menatap satu kotak berisi set alat menggambar di tangannya. Rencananya, itu akan dijadikan sebagai hadiah untuk kekasihnya yang sebentar lagi akan pindah ke luar kota demi melanjutkan studi. Diambilnya satu buah pensil dari dalam kotak dan ia pandangi seolah menatap permata yang ia ambil sendiri dari dasar gua paling berbahaya. Sepertinya, pensil itu salah satu favoritnya.

"Kamu bantu Ian, ya. Dia mau jadi seniman terkenal! Jangan nakal. Jangan mudah patah, apalagi sampai tidak nyata." Ia terkekeh sebentar, lalu bilang, "Iya, ya. Tak mungkin kamu tidak nyata. Pokoknya kamu harus jadi pensil yang baik biar Ian bisa menggambar yang bagus. Nanti kuminta dia gambar wajahku."

Dengan hati-hati dibungkusnya set alat menggambar itu dan diselipkannya selembar surat sebelum melapisinya kembali dengan kertas lainnya.

Ia melirik jam di meja belajarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.13. Pesawat Ian berangkat pukul 12.05. Ia harus berangkat sekarang kalau mau punya waku yang cukup lama untuk berbincang dengan Ian. Setelah memesan taksi online dan merapikan kembali dandanannya di depan cermin, ia pun berangkat.

Perempuan itu bernama Dea. Gadis yang dalam dua bulan ke depan akan genap berumur 20 tahun. Kulitnya yang berwarna kuning langsat dan bercahaya, mata berwarna coklat terang yang tampak selalu berbinar, serta lesung pipi yang dalam dan manis membuat siapa pun takkan bosan memandanginya lama-lama. Apalagi kalau sudah bicara dan tertawa. Siapa pun pasti jatuh cinta.

"Terima kasih ya, Pak. Hati-hati!"

Perempuan itu sudah sampai di bandara. Sesekali diperiksanya kembali ponselnya, memastikan posisi Ian di bandara. Tak berapa lama, akhirnya ditemukannya kekasihnya itu.

"Ian!" serunya.

Dihampirinya laki-laki berkacamata yang mengenakan kemeja merah kotak-kotak, lalu dipeluknya erat-erat. Mereka lalu duduk di kursi tunggu bandara. Mereka membicarakan banyak sekali hal sebelum akhirnya suara wanita di pengeras suara memberitahukan bahwa pesawat yang akan Ian tumpangi akan diberangkatkan.

Ian memeluk perempuannya dan memberikan kecupan terakhir di kening dan pipinya, lantas melangkah menuju area check-in.

Dea memutuskan untuk pergi setelah memastikan Ian berhasil check-in dan masuk ke dalam pesawat. Siang ini ia ada janji dengan teman-temannya untuk mengerjakan tugas kuliah pengamatan di perusahaan pembuatan sepatu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.46 saat Dea akhirnya sampai di rumahnya. Ia tiba-tiba teringat kalau ia belum menghubungi Ian dari tadi siang. Diambilnya ponselnya dari dalam tas lalu dihubunginya nomor Ian. Senyumnya merekah tanda tak sabaran.

"Halo, Ian. Kamu di mana? Sudah sampai?"

Keningnya berkerut sedikit.

"Ian?" panggilnya lagi.

Seketika, air mukanya berubah total. Ia menarik ponselnya dari sisi wajahnya lalu memutuskan telepon. Rautnya menggambarkan ekspresi antara bingung, takut, dan sedih. Air matanya pun pecah, tak kuat menahan gejolak perasaan yang tiba-tiba menghantam rongga dadanya. Ia berusaha menghentikan tangisnya dan meraih kembali ponselnya. Dihubunginya kembali nomor kekasihnya itu, untuk kembali memastikan apa yang baru saja didengarnya.

"Ian di mana? Kamu siapa?!" 

Tubuhnya tiba-tiba kaku, pandangannya menjadi kabur, dan ia tak sadarkan diri.

***

"Kamu bantu Ian, ya. Dia mau jadi seniman terkenal! Jangan nakal. Jangan mudah patah, apalagi sampai tidak nyata." Perempuan itu terkekeh, lalu bicara lagi, "Iya, ya. Tak mungkin kamu tidak nyata. Pokoknya kamu harus jadi pensil yang baik biar Ian bisa menggambar yang bagus. Nanti kuminta dia gambar wajahku."

Perempuan itu kemudian meletakkanku dengan hati-hati di sisi teman-temanku yang lain. Lalu, tiba-tiba semuanya gelap.

Tubuhku terguncang pelan. Saat itu aku tahu, perempuan itu sedang mendekap bungkusan yang berisi aku, di dalam taksi online yang ia naiki untuk menuju bandara. Andai aku manusia dan sebesar dia, pasti sudah kudekap balik. Perempuan itu namanya Dea, perempuan yang sejak satu bulan lalu membeli aku--dan teman-temanku--dari toko buku. Perempuan yang senyum manisnya berhasil membuatku, yang bukan manusia ini, jatuh cinta. Sayang, aku ternyata akan diberikan untuk kekasihnya. Tak apa. Sebulan memandangi senyum dan bahagia-bahagianya yang lain rasanya sudah cukup buatku. Meski kadang sakit juga melihat dia malam-malam menangis sendirian karena ingat akan segera berpisah jarak dengan kekasihnya itu.

"Terima kasih ya, Pak. Hati-hati!"

Sepertinya kami sudah sampai bandara karena di luar jadi berisik sekali. Dea masih mendekapku erat-erat. Di antara ramai-ramai di luar, sepertinya aku menangkap debar jantung yang tak biasa dari perempuan kesayanganku ini.

"Ian!" Kudengar Dea berteriak.

Tubuhku berguncang lebih hebat lagi. Sepertinya ia berlari untuk menghampiri kekasihnya. Aku tak bisa lihat apa-apa. Kesal sekali rasanya.

Terlalu banyak yang mereka bicarakan sebelum tiba saatnya Ian harus segera check-in pesawat. Aku terlalu sibuk memikirkan akan digunakan untuk menggambar apa nantinya aku. Aku sungguh tak sabar untuk sampai pada giliran Ian menggambar wajah Dea. Sungguh, aku pasti akan jadi pensil paling bahagia di dunia.

Semuanya berjalan begitu cepat karena tiba-tiba pendengaranku sakit sekali, tanda sudah ada di dalam pesawat dan sudah di atas awan. Sebaiknya, aku tidur saja.

Secercah sinar menyilaukan penglihatanku yang sejak tadi pagi gelap. Dari celah asal datangnya sinar, kulihat samar-samar wajah seorang laki-laki yang kukenali dari foto di meja belajar Dea. Laki-laki itu Ian. Wajahnya tak menyiratkan apapun setelah semua bungkusan terlepas dari tempatnya. Bahagia? Tidak sama sekali. Ian lantas mengambilku, memandangiku sebentar, lalu meletakkanku kembali ke dalam kotak dengan tak acuh.

"Kamu di mana? Aku sudah sampai di hotel."

"Oh. Sebentar lagi aku ke sana. Tunggu, ya."

Kulihat Ian berbicara di telepon. Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar. Saat ia membuka pintu tadi, kulihat langit sudah gelap. Aku sudah cukup tidur tadi, jadi tak mengantuk lagi. Akhirnya aku mengkhayal saja, memikirkan bagaimana cara agar bisa memasuki pikiran Ian dan menghasutnya menggambar hal-hal yang aku inginkan. Misalnya, menggambar Dea. Aku terkekeh pelan.

Selang beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Ian masuk diikuti oleh sesosok perempuan di belakangnya. Mereka berdua tampak bahagia. Setelah pintu tertutup, kulihat Ian memeluk perempuan itu lekat-lekat. Perempuan itu bukan kekasih Ian. Bukan Deaku tersayang.

Aku memejamkan mataku dan berusaha menutup telingaku dari suara apapun yang terdengar dari mereka berdua. Aku tak berani membayangkan akan sesakit apa Deaku saat mengetahui hal ini. Aku tak tahu berapa lama aku memejamkan mata saat akhirnya kudengar suara pintu kamar mandi tertutup. Hatiku bergemuruh. Aku mencoba membuka mataku dan mendapati perempuan itu--perempuan jalang itu-- tengah duduk di sisi kasur, mengenakan kemeja yang tadi Ian pakai.

Perempuan itu kemudian menghampiri meja tempatku berada. Ia meraih kertas berisi surat dari Dea untuk Ian. Ia mendengus dan melemparkan surat itu ke tempat sampah di sisi kamar mandi. Kulihat Ian keluar dari kamar mandi dan berdiri di sisi perempuan itu, di hadapanku.

"Aku tak suka," kata perempuan itu.

Lantas ia mengambilku dari dalam kotak dan melemparkannya ke dalam tempat sampah. Perempuan itu melempar terlalu kencang. Aku malah masuk ke kamar mandi dan diam di sana. Aku benar-benar marah sekali, tapi tak lagi bisa lihat apa-apa. Deaku dikhianati kekasihnya di depan mataku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa! Aku merutuk dalam hati banyak-banyak. Tubuhku rasanya panas sekali, seperti terbakar. Apa begini rasanya kalau seonggok pensil merasakan amarah yang amat besar? Air mataku pun meleleh juga. Aku bahkan tak bisa hanya sekadar mengepalkan tangan untuk mengekspresikan amarahku.

Eh? Air mata?

Aku mengusap air mataku, memastikan apa itu benar-benar air mata.

Tunggu dulu .... Aku punya tangan? Oh, Tuhan. Aku punya anggota tubuh! Seperti manusia!

Di tengah keterkejutanku, aku mencoba berdiri dan beranjak menuju ke depan cermin. Ini nyata--aku berwujud manusia.

Di antara derum suara mesin pendingin ruangan, aku teringat kembali dengan laki-laki sialan yang sudah mengkhianati Deaku. Diam-diam, aku masuk ke dalam kamar. Kulihat mereka berdua sudah tidur, berpelukan dibalut selimut hotel yang tampaknya hangat. 

Apa-apaan mereka.

Aku kalut. Aku tak tahu amarah macam apa yang mendorongku sampai ketika aku mendengar suara dering ponsel dari meja kecil di sisi kasur. Lantas aku tersadar dan mendapati warna selimut tak lagi putih bersih dan tanganku telah basah bersama sebilah pisau buah di kananku.

Aku mundur beberapa langkah dari kasur dan meraih ponsel milik Ian yang masih berdering. Aku memutuskan untuk mengangkatnya.

"Halo, Ian. Kamu di mana? Sudah sampai?"

Aku terdiam. Itu suara Dea di ujung telepon. Napasku masih tersenggal.

"Ian?"

"Ian dan perempuan jalangnya itu habis tidur berdua di hotel. Dia selingkuh, Dea."

Aku tak percaya suaraku benar-benar keluar. Tak kudengar suara balasan dari ujung telepon satunya. Lalu, tiba-tiba telepon terputus. Tak berapa lama, telepon Ian berdering kembali dan aku kembali mengangkatnya.

"Ian di mana? Kamu siapa?!" 

"Ini aku, pensilmu. Ian? Aku membunuhnya--membunuh mereka."
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Older Posts

Hai, kamu pengunjung ke-

Tentang Aku

Nihan Ufaira

Lebih suka sendiri, tapi kalau ramai asik juga. Suka jus dan susu. Kalau kopi bikin sakit perut, tapi suka juga, yang penting udah makan. Suka jalan-jalan, meskipun lebih banyak rebahan. Suka apa lagi, ya? Coba kita ngobrol dulu kali, ya?

Sosial

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Arsip

  • April 2025 (1)
  • December 2024 (2)
  • October 2023 (1)
  • February 2019 (2)
  • January 2019 (1)
  • December 2018 (2)
  • November 2018 (1)

Populer

  • Suara di Ujung Telepon
    Mata perempuan itu berbinar menatap satu kotak berisi set alat menggambar di tangannya. Rencananya, itu akan dijadikan sebagai hadiah untuk...
  • Penghujung Sore
    Riak ombak bergemuruh. Kilau kekuningannya menari-nari di antara jemari kakiku, lalu meluruh dengan cepat. Udara dari sisa angin laut yang ...
  • Sepeda
    Kamu tahu bagaimana menghadapi luka akibat putus cinta? Sini, mendekatlah. Biar kuberi tahu. Saat putus cinta, pelankan kayuhmu. Jangan te...
  • Anak Kucing
    "Mama sama Ayah pergi dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah Andi. Jangan nakal dan jangan menyusahkan Nin Dewi." Aku mengangguk. ...
  • Tentang Jarak
    Gerumul awan seputih kapas mengambang lembut di atas, membayangi setiap langkah yang menghantar orang-orang menuju tujuan mereka. Kulihat...

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates