Pilihan, Konsekuensi, dan Kebebasan.

by - October 02, 2023

Menjadi dewasa ternyata tidak terlalu menyenangkan, ya. Pikirku saat kecil, "menjadi dewasa itu lebih enak, menjadi dewasa itu berarti bebas!" Dalam bayanganku dulu, dewasa itu menyenangkan karena bisa melakukan apapun dan tidak ada yang melarang. Sering juga aku menyaksikan para orang dewasa melakukan hal-hal yang asik, yang seru, yang bikin senang. Giliran aku minta hal yang sama, tidak boleh. Waktu itu, rasanya kesal sekali. Jadi anak kecil tidak enak, tidak bebas! 

Yang saat itu belum aku pahami adalah, hal-hal yang enak, yang seru, dan yang bikin senang itu punya konsekuensinya masing-masing. Dulu aku berpikir, makan permen banyak-banyak itu enak, tapi orang dewasa malah membatasi, bilangnya bikin sakit tenggorokan, bikin gigi rusak. Biar saja, toh kalau sakit, ada Ibu dan Ayah yang merawat. Saat masih kanak-kanak, kebanyakan konsekuensi yang harus diterima masih ditanggung oleh orang tua. Yang orang dewasa sering lupa bilang (atau versi kanak-kanak kita yang sepertinya tidak mau dengar), bahwa suatu hari, ketika kita akhirnya menjadi dewasa, semua konsekuensi hidup, kita sendiri yang tanggung. Seluruhnya

(Sekarang, sudah dewasa begini, lihat anak kecil main petak umpet sore-sore, kok kayaknya bebas banget, ya?) 

Bicara soal kebebasan, erat kaitannya dengan kebebasan memilih. Menjadi bebas berarti bebas melakukan apapun, bebas memilih mau melakukan apa sekarang, satu jam lagi, seharian ini, atau sebulan ini. Bebas. 

Lantas, kebebasan memilih, apakah benar-benar ada? 

Benar bahwa semua orang bebas memilih. Namun kembali lagi, ada konsekuensi atas pilihan yang kita buat. Kita mau pilih makan manis setiap hari, ada diabetes dan penyakit komplikasi lainnya menanti di masa tua. Kita mau pilih pola hidup sehat, ternyata olahraga melelahkan, konsistennya sulit, mau makan enak harus dibatasi, waktu tidur pun harus diatur. Memilih jenjang karir, memilih pendidikan, memilih pasangan hidup. Bahkan pilihan kecil seperti, makan apa siang ini, tetap ada konsekuensi yang mengekor. Iya, memilihnya bebas, konsekuensinya yang bikin nggak bebas. 

Betul, di dunia ini tidak ada yang benar-benar bebas. Kebebasan yang sempat kita andai-andaikan dulu, erat sekali berdampingan dengan konsekuensi yang mau tidak mau harus kita hadapi sebagai buah dari kebebasan pilihan yang kita buat. Konsekuensi menciptakan batasan yang menegasikan konsep dari kebebasan itu sendiri. Kesimpulannya, kebebasan mutlak itu tidak ada. Freedom. Is. Not. Free


Jadi, lebih bebas waktu sudah dewasa atau waktu masih anak-anak? 


*** 

Babak Dua: Belajar Bersyukur. Hahaha. 

You May Also Like

1 comments