Bunga Abadi
Kamu tahu, tidak? Dari milyaran manusia di dunia, rata-rata kita hanya bertemu dengan 2.000 manusia lain sepanjang hidup. Di antara 2.000 manusia yang aku temui, kamu adalah satu yang aku syukuri kehadirannya.
Bersama dunia yang sedang kedinginan karena hujan tak kunjung berhenti sedari pagi, kamu menghampiriku dengan segudang hangat. Mengajakku minum kopi dan mengobrol sampai larut seluruh rasa.
Aku yang sedang tidak mampu, dan kamu yang bermaksud memampukan.
Sayangnya, takdir-takdir baik tidak seluruhnya berpihak pada kita. Tanganku yang membeku, tak kunjung hangat disentuh olehmu. Isi kepala yang sedang penuh, tak mampu menampung petikan rasa yang kamu tutur dengan pelan.
Aku memintamu pergi.
Pada hari di mana benang-benang kusut dalam kepalaku terurai dan hangat matahari bisa masuk sehari sekali, aku memohon kepada semesta agar selalu berpihak kepadamu ketika duka terpaksa kamu tanggung sendiri. Aku memohon kepada bumi agar meringankan langkahmu menghampiri mimpi-mimpi yang sedang kamu lantunkan ke langit.
Mampuku hari ini, pernah kamu usahakan. Jadi doaku saat ini adalah tentang kasih dan syukur yang belum sempat aku sampaikan kepada kamu kemarin, di hari aku memutuskan kisah kita selesai.
***
Katanya, jangan menyakiti penulis sebab luka-luka akan abadi dalam tulisannya. Aku beri tahu kamu bahwa ada hal tidak menyakitkan yang juga akan abadi dalam tulisanku, misalnya lagu sumbang ini.

0 comments