Nihan Ufaira Rizagana. Powered by Blogger.
facebook twitter instagram Email

Tepian Berawan

Gerumul awan seputih kapas mengambang lembut di atas, membayangi setiap langkah yang menghantar orang-orang menuju tujuan mereka. Kulihat, mereka semua tersenyum hari ini. Entah karena ada kabar baik atau karena matahari sedang lembut-lembutnya berpendar pagi ini. Jakarta yang biasanya panas, terasa sedikit lebih sejuk. Langit sedang teramat biru dan cuitan para burung terdengar amat membahagiakan.

Aku tersenyum. Hari ini hari Sabtu pertama di bulan Januari. Itu artinya kita akan bertemu lagi sebagaimana bulan-bulan sebelumnya. Ah, aku ingin berjingkrak dan menari-nari ke sekeliling taman ini, tapi malu juga kalau dilihat orang-orang. Jadi, aku cuma menggoyang-goyangkan kakiku dengan semangat. Aku tidak sabar dan benar-benar berdebar. Sejak kita berhubungan jarak jauh setahun yang lalu, aku selalu sebahagia ini setiap akan bertemu kamu. Boleh, kan? Aku sudah sebulan memupuk rindu sampai benar-benar penuh.

Jantungku ingin copot rasanya ketika melihat sesosok laki-laki berkacamata dengan kemeja hitam menghampiriku sambil tersenyum. Aku melambai-lambai dengan semangat. Kamu, sambil malu-malu, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kertas yang kamu tenteng dan memberikannya padaku. Buket bunga mawar kesukaanku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kamu hadiahi aku bunga. Ingin aku melompat dan memelukmu erat tapi lagi-lagi aku malu kalau orang-orang lihat.

"Kamu sudah makan?" tanyaku.

"Tadi aku berangkat dari subuh."

"Ih, tidak nyambung!" aku menggerutu.

Bukannya menanggapi aku, kamu malah bercerita tentang banyak hal. Tentang bosmu yang menyebalkan dengan setumpuk kerjaan dadakannya; tentang Cimut, kucingmu, yang sempat sakit dan kemarin sudah kamu jemput pulang; tentang proyek-proyek sampingan yang suka kamu kerjakan sampai tengah malam demi menambah uang jajan; tentang laptopmu yang belum juga selesai diperbaiki padahal sudah lewat dua minggu. Tak apa, wajahmu lucu ketika sedang bercerita begitu. Ingin aku cubit, tapi aku malah tertawa terus sampai tak sempat. Gemas sekali rasanya.

"Sebelum berangkat tadi, Bunda bertanya tentang kamu."

"Kamu tidak bilang yang aneh-aneh pada Bunda, kan?" Aku mendelik.

"Aku bilang, kamu baik, bersih, dan wangi seperti biasanya."

"Bagus."

Kamu tiba-tiba terdiam cukup lama. Aku tak suka kalau saling diam begini. Aku mau bicara tapi tak banyak juga yang bisa kuceritakan.

"Sayang ...," 

Kamu akhirnya membuka suara. 

"Minggu depan aku akan menikah dengan orang lain."

Aku tertegun. Dunia rasanya runtuh di sekelilingku. Dadaku merasakan nyeri yang teramat sangat. Sesak sekali sampai mual rasanya. Aku marah, sangat marah. Aku ingin berteriak, memaki, dan memukulmu saat itu juga. Namun, yang akhirnya kulakukan hanyalah menangis.

Kamu menghela napas panjang. Raut sedihmu kabur di pandanganku, terhalang bulir air mata yang tak kunjung habis.

"Maaf," bisikmu lirih, seperti tercekat menahan tangis agar tidak tumpah.

Kulihat kamu memejam dan menyampaikan doa terakhir, mengusap nisanku pelan, lalu melenggang pergi meninggalkan aku yang tak juga bisa menghentikan tangis.

*

Kata mereka, jarak terjauh itu ketika dua insan saling mencinta tapi berbeda keyakinannya akan Tuhan. Sepertinya, mereka belum pernah menjadi kita.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Hai, kamu pengunjung ke-

Tentang Aku

Nihan Ufaira

Lebih suka sendiri, tapi kalau ramai asik juga. Suka jus dan susu. Kalau kopi bikin sakit perut, tapi suka juga, yang penting udah makan. Suka jalan-jalan, meskipun lebih banyak rebahan. Suka apa lagi, ya? Coba kita ngobrol dulu kali, ya?

Sosial

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Arsip

  • April 2025 (1)
  • December 2024 (2)
  • October 2023 (1)
  • February 2019 (2)
  • January 2019 (1)
  • December 2018 (2)
  • November 2018 (1)

Populer

  • Suara di Ujung Telepon
    Mata perempuan itu berbinar menatap satu kotak berisi set alat menggambar di tangannya. Rencananya, itu akan dijadikan sebagai hadiah untuk...
  • Penghujung Sore
    Riak ombak bergemuruh. Kilau kekuningannya menari-nari di antara jemari kakiku, lalu meluruh dengan cepat. Udara dari sisa angin laut yang ...
  • Sepeda
    Kamu tahu bagaimana menghadapi luka akibat putus cinta? Sini, mendekatlah. Biar kuberi tahu. Saat putus cinta, pelankan kayuhmu. Jangan te...
  • Anak Kucing
    "Mama sama Ayah pergi dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah Andi. Jangan nakal dan jangan menyusahkan Nin Dewi." Aku mengangguk. ...
  • Tentang Jarak
    Gerumul awan seputih kapas mengambang lembut di atas, membayangi setiap langkah yang menghantar orang-orang menuju tujuan mereka. Kulihat...

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates