Gerumul awan seputih kapas mengambang lembut di atas, membayangi setiap langkah yang menghantar orang-orang menuju tujuan mereka. Kulihat, mereka semua tersenyum hari ini. Entah karena ada kabar baik atau karena matahari sedang lembut-lembutnya berpendar pagi ini. Jakarta yang biasanya panas, terasa sedikit lebih sejuk. Langit sedang teramat biru dan cuitan para burung terdengar amat membahagiakan.
Aku tersenyum. Hari ini hari Sabtu pertama di bulan Januari. Itu artinya kita akan bertemu lagi sebagaimana bulan-bulan sebelumnya. Ah, aku ingin berjingkrak dan menari-nari ke sekeliling taman ini, tapi malu juga kalau dilihat orang-orang. Jadi, aku cuma menggoyang-goyangkan kakiku dengan semangat. Aku tidak sabar dan benar-benar berdebar. Sejak kita berhubungan jarak jauh setahun yang lalu, aku selalu sebahagia ini setiap akan bertemu kamu. Boleh, kan? Aku sudah sebulan memupuk rindu sampai benar-benar penuh.
Jantungku ingin copot rasanya ketika melihat sesosok laki-laki berkacamata dengan kemeja hitam menghampiriku sambil tersenyum. Aku melambai-lambai dengan semangat. Kamu, sambil malu-malu, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kertas yang kamu tenteng dan memberikannya padaku. Buket bunga mawar kesukaanku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kamu hadiahi aku bunga. Ingin aku melompat dan memelukmu erat tapi lagi-lagi aku malu kalau orang-orang lihat.
"Kamu sudah makan?" tanyaku.
"Tadi aku berangkat dari subuh."
"Ih, tidak nyambung!" aku menggerutu.
Bukannya menanggapi aku, kamu malah bercerita tentang banyak hal. Tentang bosmu yang menyebalkan dengan setumpuk kerjaan dadakannya; tentang Cimut, kucingmu, yang sempat sakit dan kemarin sudah kamu jemput pulang; tentang proyek-proyek sampingan yang suka kamu kerjakan sampai tengah malam demi menambah uang jajan; tentang laptopmu yang belum juga selesai diperbaiki padahal sudah lewat dua minggu. Tak apa, wajahmu lucu ketika sedang bercerita begitu. Ingin aku cubit, tapi aku malah tertawa terus sampai tak sempat. Gemas sekali rasanya.
"Sebelum berangkat tadi, Bunda bertanya tentang kamu."
"Kamu tidak bilang yang aneh-aneh pada Bunda, kan?" Aku mendelik.
"Aku bilang, kamu baik, bersih, dan wangi seperti biasanya."
"Bagus."
Kamu tiba-tiba terdiam cukup lama. Aku tak suka kalau saling diam begini. Aku mau bicara tapi tak banyak juga yang bisa kuceritakan.
"Sayang ...,"
Aku tersenyum. Hari ini hari Sabtu pertama di bulan Januari. Itu artinya kita akan bertemu lagi sebagaimana bulan-bulan sebelumnya. Ah, aku ingin berjingkrak dan menari-nari ke sekeliling taman ini, tapi malu juga kalau dilihat orang-orang. Jadi, aku cuma menggoyang-goyangkan kakiku dengan semangat. Aku tidak sabar dan benar-benar berdebar. Sejak kita berhubungan jarak jauh setahun yang lalu, aku selalu sebahagia ini setiap akan bertemu kamu. Boleh, kan? Aku sudah sebulan memupuk rindu sampai benar-benar penuh.
Jantungku ingin copot rasanya ketika melihat sesosok laki-laki berkacamata dengan kemeja hitam menghampiriku sambil tersenyum. Aku melambai-lambai dengan semangat. Kamu, sambil malu-malu, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kertas yang kamu tenteng dan memberikannya padaku. Buket bunga mawar kesukaanku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kamu hadiahi aku bunga. Ingin aku melompat dan memelukmu erat tapi lagi-lagi aku malu kalau orang-orang lihat.
"Kamu sudah makan?" tanyaku.
"Tadi aku berangkat dari subuh."
"Ih, tidak nyambung!" aku menggerutu.
Bukannya menanggapi aku, kamu malah bercerita tentang banyak hal. Tentang bosmu yang menyebalkan dengan setumpuk kerjaan dadakannya; tentang Cimut, kucingmu, yang sempat sakit dan kemarin sudah kamu jemput pulang; tentang proyek-proyek sampingan yang suka kamu kerjakan sampai tengah malam demi menambah uang jajan; tentang laptopmu yang belum juga selesai diperbaiki padahal sudah lewat dua minggu. Tak apa, wajahmu lucu ketika sedang bercerita begitu. Ingin aku cubit, tapi aku malah tertawa terus sampai tak sempat. Gemas sekali rasanya.
"Sebelum berangkat tadi, Bunda bertanya tentang kamu."
"Kamu tidak bilang yang aneh-aneh pada Bunda, kan?" Aku mendelik.
"Aku bilang, kamu baik, bersih, dan wangi seperti biasanya."
"Bagus."
Kamu tiba-tiba terdiam cukup lama. Aku tak suka kalau saling diam begini. Aku mau bicara tapi tak banyak juga yang bisa kuceritakan.
"Sayang ...,"
Kamu akhirnya membuka suara.
"Minggu depan aku akan menikah dengan orang lain."
Aku tertegun. Dunia rasanya runtuh di sekelilingku. Dadaku merasakan nyeri yang teramat sangat. Sesak sekali sampai mual rasanya. Aku marah, sangat marah. Aku ingin berteriak, memaki, dan memukulmu saat itu juga. Namun, yang akhirnya kulakukan hanyalah menangis.
Kamu menghela napas panjang. Raut sedihmu kabur di pandanganku, terhalang bulir air mata yang tak kunjung habis.
"Maaf," bisikmu lirih, seperti tercekat menahan tangis agar tidak tumpah.
Kulihat kamu memejam dan menyampaikan doa terakhir, mengusap nisanku pelan, lalu melenggang pergi meninggalkan aku yang tak juga bisa menghentikan tangis.
Kata mereka, jarak terjauh itu ketika dua insan saling mencinta tapi berbeda keyakinannya akan Tuhan. Sepertinya, mereka belum pernah menjadi kita.
Aku tertegun. Dunia rasanya runtuh di sekelilingku. Dadaku merasakan nyeri yang teramat sangat. Sesak sekali sampai mual rasanya. Aku marah, sangat marah. Aku ingin berteriak, memaki, dan memukulmu saat itu juga. Namun, yang akhirnya kulakukan hanyalah menangis.
Kamu menghela napas panjang. Raut sedihmu kabur di pandanganku, terhalang bulir air mata yang tak kunjung habis.
Kulihat kamu memejam dan menyampaikan doa terakhir, mengusap nisanku pelan, lalu melenggang pergi meninggalkan aku yang tak juga bisa menghentikan tangis.
*
Kata mereka, jarak terjauh itu ketika dua insan saling mencinta tapi berbeda keyakinannya akan Tuhan. Sepertinya, mereka belum pernah menjadi kita.