Kamu tahu bagaimana menghadapi luka akibat putus cinta? Sini, mendekatlah. Biar kuberi tahu.
Saat putus cinta, pelankan kayuhmu. Jangan terburu-buru berhenti dan berbalik. Kakimu masih lemah untuk menjejak dan berbalik arah lalu mengayuh sendirian. Matamu masih kabur sebab air mata sedang penuh di pelupuk. Hatimu masih terlampau rapuh untuk sekadar disapa angin. Pelankan kayuhmu dengan tenang, tak apa meski sekali-kali gemetar.
Awalnya tepat di belakang. Pelankan kayuhmu sampai perbedaan jumlah kayuh membuahkan jarak, sampai ia tak sadar bahwa kamu sudah jauh di belakang. Tutup saja telingamu dari canda dan tawa mereka di depan. Jangan sok kuat dan memaksa membuka telinga demi mencuri dengar. Bisa-bisa egomu menguasai dan berbisik, "harusnya denganku ia bahagia", lalu kamu goyah dan jatuh dibuai amarah.
Jika ada yang tiba-tiba datang dan bilang ingin temani mengayuh, aku mohon acuhkan saja. Kamu belum mampu berdamai dengan hatimu. Bagaimana kamu akan mencinta saat hatimu sedang terluka? Bukannya sembuh, patahan hatimu justru akan melukainya. Lantas ia memilih pergi dan lukamu yang masih basah malah bertambah parah ditambah rasa bersalah. Tahan dirimu dan tolaklah ia dengan baik.
Nanti kamu akan takjub sendiri saat air matamu sudah kering sebab bosan bersua dengan lara, lalu hatimu sudah tak lagi basah oleh luka yang sempat berdarah-darah. Kamu sendiri pun tak sadar saat tiba-tiba kakimu sudah jadi sangat kuat untuk mengayuh sampai jauh tanpa terjatuh. Sendiri ternyata tak masalah, bukan? Sebab di sekelilingmu pemandangan sudah terlampau indah.
Setelahnya, baru kamu boleh persilakan hatimu untuk tersenyum pada sesiapa yang hendak membagi bahagianya denganmu, untuk kamu bagi pula bahagiamu dengannya.
Setelahnya, baru kamu boleh persilakan hatimu untuk tersenyum pada sesiapa yang hendak membagi bahagianya denganmu, untuk kamu bagi pula bahagiamu dengannya.