Anak Kucing
"Mama sama Ayah pergi dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah Andi. Jangan nakal dan jangan menyusahkan Nin Dewi."
Aku mengangguk. Setelah mobil Ayah melenggang pergi, aku dan Andi bergegas masuk ke dalam rumah, tepatnya ke kamar Andi. Hari ini adalah hari Sabtu dan besok sekolah kami libur, sebagaimana biasanya. Bedanya, hari ini sampai besok aku akan menginap di rumah Andi karena Ayah dan Mama harus ke rumah Bibi Anum. Aku tak boleh ikut. Urusan orang dewasa, katanya.
"Jadi, kita mau main apa?" tanya Andi sesaat setelah aku merebahkan tubuhku di kasur miliknya.
"Ke empang? Memancing?"
"Ayo!"
Kami pun bergegas keluar. Kulihat Nin Dewi sedang duduk di kursi goyang sambil mendengarkan radio tua miliknya. Matanya menatap lurus ke depan dengan tenang. Nin Dewi ini termasuk salah satu yang dituakan di kampung kami. Meski sudah sepuh, beliau masih tampak sehat dan cantik, setidaknya untuk ukuran nenek-nenek. Apalagi kalau sedang tersenyum. Ramah sekali. Sekampung kami sangat menyukainya, meski kadang cerewet juga. Untungnya, kami berdua sudah makan siang, jadi Nin Dewi tak akan ripuh menyuruh kami makan.
*
"Hei, kamu dengar itu?" tanyaku pada Andi.
Andi yang sedang bercerita langsung terdiam dan tampak menajamkan pendengarannya. Aku sekali lagi berusaha mendengarkan dengan lebih seksama. Sayup-sayup suara melengking yang lemah bersahut-sahutan terdengar dari salah satu sisi empang.
Andi menatapku dan aku langsung mengerti apa maksudnya. Kami meninggalkan alat pancing kami dan mencari-cari sumber suara. Saat berjalan menyusuri empang, suara yang kami dengar semakin jelas. Kami mendekati salah satu pohon singkong tempat suara itu berasal.
"Anak kucing," ucapku. "Tiga anak kucing."
"Lucu, ya. Di mana induknya?"
Aku mengangkat bahuku, tidak tahu.
"Ndi, ayo pulang saja."
Andi tak menghiraukan ajakanku. Ia sepertinya hendak menunggu sampai induk mereka datang dan aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Lama kami menunggu tapi sang induk tak juga datang. Wajah Andi tampak sedih melihat anak-anak kucing itu mengeong terus-menerus. Sementara aku, masih khawatir.
"Ndi, ayo pulang saja."
Andi tak menghiraukan ajakanku. Ia sepertinya hendak menunggu sampai induk mereka datang dan aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Lama kami menunggu tapi sang induk tak juga datang. Wajah Andi tampak sedih melihat anak-anak kucing itu mengeong terus-menerus. Sementara aku, masih khawatir.
"Aku mau pelihara," kata Andi.
Aku menatap Andi. Dia harusnya tahu. Kami semua di kampung ini tahu kalau anak kucing tak berinduk tak boleh dipelihara di kampung ini. Tidak boleh dibunuh juga. Kalau ketemu, harus dipindahkan ke tempat yang jauh dari rumah warga. Sepertinya seseorang sengaja meletakkannya di sini. Kata nenekku, dari zaman dulu sudah begitu. Tak boleh dilanggar. Nanti sekampung bisa kena sial.
"Tapi, Ndi ...."
Andi tertawa. Sepertinya ia menangkap kekhawatiran dari raut wajahku.
"Bar, serius, deh. Kamu percaya kata orang-orang, ya? Kamu tidak kasihan sama anak kucing ini?"
Aku ingin mendebat lagi, tapi tak jadi. Bisa-bisa Andi tambah mengejekku dan memberitahukannya ke teman-teman. Akhirnya, mau tak mau aku pun membantu Andi mengangkat kardus berisi anak-anak kucing itu dan membawanya ke arah rumahnya. Untungnya, anak-anak kucing itu tak lagi berisik saat kami gotong menuju rumah Andi.
Di sana, Andi menaruh mereka di semak-semak dekat pohon singkong yang tumbuh di halaman belakang rumahnya. Diam-diam ia masuk ke dalam rumah dan kembali dengan beberapa lembar kain bekas serta susu hangat. Ia menyelipkan kain-kain itu di sela-sela kosong dalam kardus dan memberi anak-anak kucing itu susu hangat. Andi tahu neneknya tak akan mengizinkan dia memelihara anak-anak kucing itu jadi sebisa mungkin ia letakkan di tempat yang cukup tersembunyi. Ia tahu betapa keras sang nenek kalau tahu ia melanggar hal-hal semacam ini.
Setelah memastikan mereka tertidur, kami berjalan masuk ke dalam rumah.
Setelah memastikan mereka tertidur, kami berjalan masuk ke dalam rumah.
"Anwar dan yang lainnya mengajak main layangan nanti sore. Kebetulan kemarin aku sudah beli dua sekalian benangnya. Ikut?" tanya Andi padaku.
"Yuk."
*
Matahari sudah hampir tak terlihat lagi wujudnya saat aku dan Andi memutuskan untuk pulang. Tak boleh sampai magrib. Tabu berada di luar ketika magrib. Sesampainya di rumah, Andi langsung menutup semua pintu dan jendela lalu menuju kamarnya untuk menyimpan layang-layang. Aku menuju kamar mandi untuk cuci kaki. Saat keluar, gantian Andi yang menggunakan kamar mandi. Aku menuju kamar Andi sambil menunggunya. Tadi di dapur aku tak melihat Nin Dewi, padahal beberapa masakan tampak belum selesai dimasak. Sepertinya ia sedang ke kamarnya. Aku lapar, tapi sepertinya masih harus menunggu sampai makan malam siap.
Saat sedang merebahkan diri di kasur, kudengar sayup-sayup suara mengeong anak-anak kucing dari teras belakang. Seingatku, sore tadi Andi sudah memberi susu untuk mereka. Andi tiba-tiba masuk kamar.
"Kucingnya," katanya sambil berbisik. Raut wajahnya khawatir. Mungkin ia takut Nin Dewi tahu.
Sepertinya mereka terbangun lagi. Andi mengajakku untuk menuju ke dapur dan menyiapkan susu untuk kucing-kucing kecil itu. Andi meyakinkanku kalau neneknya tak akan keluar kamar sampai pukul tujuh malam nanti. Sudah biasa begitu, katanya.
"Kucingnya," katanya sambil berbisik. Raut wajahnya khawatir. Mungkin ia takut Nin Dewi tahu.
Sepertinya mereka terbangun lagi. Andi mengajakku untuk menuju ke dapur dan menyiapkan susu untuk kucing-kucing kecil itu. Andi meyakinkanku kalau neneknya tak akan keluar kamar sampai pukul tujuh malam nanti. Sudah biasa begitu, katanya.
Aku pun membawa susu yang sudah disiapkan menuju teras belakang. Saat hendak membuka pintu teras, aku ingat kalau tidak boleh keluar rumah magrib-magrib begini.
Ah, siapa peduli. Kalau anak-anak kucing itu mati, bagaimana?
Aku memaksa diriku keluar meski sebenarnya aku ketakutan. Andi sudah berjalan keluar duluan. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di sisi tembok yang menghalangi teras dari kebun belakang. Aku menyusulnya. Mataku terbelalak. Dari balik tembok, di antara pohon singkong yang ditanam di kebun belakang, kulihat sesosok wanita berjongkok membelakangi kami. Aku ingat, anak-anak kucing itu ada di sana.
Jantungku rasanya mau copot saat wanita itu berhenti dengan aktivitasnya dan menoleh ke belakang.
Jantungku rasanya mau copot saat wanita itu berhenti dengan aktivitasnya dan menoleh ke belakang.
Nin Dewi, dengan bola matanya yang tinggal warna putih tersisa, menatap ke arah kami dengan tangan dan mulut berlumur darah.
Darah anak kucing.
0 comments