Kepada Cahaya Kesayangan Semesta
Teranglah, benderang, sampai menyilaukan.
Meski bukan satu-dua kali manusia mengecilkan apimu dengan kasar, setelah usai menuai hangat dari pijarmu. Menjadikanmu pendar takut-takut yang berusaha menyusup di antara sela-sela dedaunan. Terpaksa kamu memulai kembali dengan susah-payah, sampai nyalamu kembali mampu menghangatkan ujung jemari yang dibuat membeku.
Keras memang diciptakan kepalamu, agar tidak mudah dibawa arus lantas hilang arah. Sebab hatimu mudah tersentuh dan melunak. Setelah beberapa kali kamu izinkan manusia masuk, tapi malah dikoyaknya sampai tak berbentuk. Angkat kepalamu dan berbanggalah dengan kerasnya.
Di tengah harap-harap dan doa yang setengah ragu kamu panjatkan kepada langit, dan segala pertanyaan yang harus kamu cari tahu sendiri jawabannya, semoga keberadaan Tuhan di hatimu tidak pernah hilang.
Cinta yang aku miliki sangat sedikit, tapi semoga selalu bisa menjaga agar kantung hatimu tidak pernah kosong melompong. Semoga dalam sepi yang tak bisa kamu bagi dengan sesiapa, pendarku yang redup dan jauh mampu menyentuh gelapmu. Aku harap kamu tahu, selama jiwaku masih menyatu dengan tubuhnya, kamu tidak akan pernah sendirian.
Aku harap kamu mau hidup untuk waktu yang sangat lama, karena pada akhirnya, kamu menemukan bahwa kehidupan yang sempat kamu benci dengan sepenuh hati, bisa kamu peluk erat dan kamu izinkan ia mendekapmu sampai lelap.
Selamat ulang tahun, Deanisya. Serta mulia, kamu yang patut dirayakan.

0 comments