Nihan Ufaira Rizagana. Powered by Blogger.
facebook twitter instagram Email

Tepian Berawan


Kamu tahu, tidak? Dari milyaran manusia di dunia, rata-rata kita hanya bertemu dengan 2.000 manusia lain sepanjang hidup. Di antara 2.000 manusia yang aku temui, kamu adalah satu yang aku syukuri kehadirannya. 

Bersama dunia yang sedang kedinginan karena hujan tak kunjung berhenti sedari pagi, kamu menghampiriku dengan segudang hangat. Mengajakku minum kopi dan mengobrol sampai larut seluruh rasa.  

Aku yang sedang tidak mampu, dan kamu yang bermaksud memampukan. 

Sayangnya, takdir-takdir baik tidak seluruhnya berpihak pada kita. Tanganku yang membeku, tak kunjung hangat disentuh olehmu. Isi kepala yang sedang penuh, tak mampu menampung petikan rasa yang kamu tutur dengan pelan. 

Aku memintamu pergi. 

Pada hari di mana benang-benang kusut dalam kepalaku terurai dan hangat matahari bisa masuk sehari sekali, aku memohon kepada semesta agar selalu berpihak kepadamu ketika duka terpaksa kamu tanggung sendiri. Aku memohon kepada bumi agar meringankan langkahmu menghampiri mimpi-mimpi yang sedang kamu lantunkan ke langit. 

Mampuku hari ini, pernah kamu usahakan. Jadi doaku saat ini adalah tentang kasih dan syukur yang belum sempat aku sampaikan kepada kamu kemarin, di hari aku memutuskan kisah kita selesai. 

*** 

Katanya, jangan menyakiti penulis sebab luka-luka akan abadi dalam tulisannya. Aku beri tahu kamu bahwa ada hal tidak menyakitkan yang juga akan abadi dalam tulisanku, misalnya lagu sumbang ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Menjadi dewasa ternyata tidak terlalu menyenangkan, ya. Pikirku saat kecil, "menjadi dewasa itu lebih enak, menjadi dewasa itu berarti bebas!" Dalam bayanganku dulu, dewasa itu menyenangkan karena bisa melakukan apapun dan tidak ada yang melarang. Sering juga aku menyaksikan para orang dewasa melakukan hal-hal yang asik, yang seru, yang bikin senang. Giliran aku minta hal yang sama, tidak boleh. Waktu itu, rasanya kesal sekali. Jadi anak kecil tidak enak, tidak bebas! 

Yang saat itu belum aku pahami adalah, hal-hal yang enak, yang seru, dan yang bikin senang itu punya konsekuensinya masing-masing. Dulu aku berpikir, makan permen banyak-banyak itu enak, tapi orang dewasa malah membatasi, bilangnya bikin sakit tenggorokan, bikin gigi rusak. Biar saja, toh kalau sakit, ada Ibu dan Ayah yang merawat. Saat masih kanak-kanak, kebanyakan konsekuensi yang harus diterima masih ditanggung oleh orang tua. Yang orang dewasa sering lupa bilang (atau versi kanak-kanak kita yang sepertinya tidak mau dengar), bahwa suatu hari, ketika kita akhirnya menjadi dewasa, semua konsekuensi hidup, kita sendiri yang tanggung. Seluruhnya. 

(Sekarang, sudah dewasa begini, lihat anak kecil main petak umpet sore-sore, kok kayaknya bebas banget, ya?) 

Bicara soal kebebasan, erat kaitannya dengan kebebasan memilih. Menjadi bebas berarti bebas melakukan apapun, bebas memilih mau melakukan apa sekarang, satu jam lagi, seharian ini, atau sebulan ini. Bebas. 

Lantas, kebebasan memilih, apakah benar-benar ada? 

Benar bahwa semua orang bebas memilih. Namun kembali lagi, ada konsekuensi atas pilihan yang kita buat. Kita mau pilih makan manis setiap hari, ada diabetes dan penyakit komplikasi lainnya menanti di masa tua. Kita mau pilih pola hidup sehat, ternyata olahraga melelahkan, konsistennya sulit, mau makan enak harus dibatasi, waktu tidur pun harus diatur. Memilih jenjang karir, memilih pendidikan, memilih pasangan hidup. Bahkan pilihan kecil seperti, makan apa siang ini, tetap ada konsekuensi yang mengekor. Iya, memilihnya bebas, konsekuensinya yang bikin nggak bebas. 

Betul, di dunia ini tidak ada yang benar-benar bebas. Kebebasan yang sempat kita andai-andaikan dulu, erat sekali berdampingan dengan konsekuensi yang mau tidak mau harus kita hadapi sebagai buah dari kebebasan pilihan yang kita buat. Konsekuensi menciptakan batasan yang menegasikan konsep dari kebebasan itu sendiri. Kesimpulannya, kebebasan mutlak itu tidak ada. Freedom. Is. Not. Free. 


Jadi, lebih bebas waktu sudah dewasa atau waktu masih anak-anak? 


*** 

Babak Dua: Belajar Bersyukur. Hahaha. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Mata perempuan itu berbinar menatap satu kotak berisi set alat menggambar di tangannya. Rencananya, itu akan dijadikan sebagai hadiah untuk kekasihnya yang sebentar lagi akan pindah ke luar kota demi melanjutkan studi. Diambilnya satu buah pensil dari dalam kotak dan ia pandangi seolah menatap permata yang ia ambil sendiri dari dasar gua paling berbahaya. Sepertinya, pensil itu salah satu favoritnya.

"Kamu bantu Ian, ya. Dia mau jadi seniman terkenal! Jangan nakal. Jangan mudah patah, apalagi sampai tidak nyata." Ia terkekeh sebentar, lalu bilang, "Iya, ya. Tak mungkin kamu tidak nyata. Pokoknya kamu harus jadi pensil yang baik biar Ian bisa menggambar yang bagus. Nanti kuminta dia gambar wajahku."

Dengan hati-hati dibungkusnya set alat menggambar itu dan diselipkannya selembar surat sebelum melapisinya kembali dengan kertas lainnya.

Ia melirik jam di meja belajarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.13. Pesawat Ian berangkat pukul 12.05. Ia harus berangkat sekarang kalau mau punya waku yang cukup lama untuk berbincang dengan Ian. Setelah memesan taksi online dan merapikan kembali dandanannya di depan cermin, ia pun berangkat.

Perempuan itu bernama Dea. Gadis yang dalam dua bulan ke depan akan genap berumur 20 tahun. Kulitnya yang berwarna kuning langsat dan bercahaya, mata berwarna coklat terang yang tampak selalu berbinar, serta lesung pipi yang dalam dan manis membuat siapa pun takkan bosan memandanginya lama-lama. Apalagi kalau sudah bicara dan tertawa. Siapa pun pasti jatuh cinta.

"Terima kasih ya, Pak. Hati-hati!"

Perempuan itu sudah sampai di bandara. Sesekali diperiksanya kembali ponselnya, memastikan posisi Ian di bandara. Tak berapa lama, akhirnya ditemukannya kekasihnya itu.

"Ian!" serunya.

Dihampirinya laki-laki berkacamata yang mengenakan kemeja merah kotak-kotak, lalu dipeluknya erat-erat. Mereka lalu duduk di kursi tunggu bandara. Mereka membicarakan banyak sekali hal sebelum akhirnya suara wanita di pengeras suara memberitahukan bahwa pesawat yang akan Ian tumpangi akan diberangkatkan.

Ian memeluk perempuannya dan memberikan kecupan terakhir di kening dan pipinya, lantas melangkah menuju area check-in.

Dea memutuskan untuk pergi setelah memastikan Ian berhasil check-in dan masuk ke dalam pesawat. Siang ini ia ada janji dengan teman-temannya untuk mengerjakan tugas kuliah pengamatan di perusahaan pembuatan sepatu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.46 saat Dea akhirnya sampai di rumahnya. Ia tiba-tiba teringat kalau ia belum menghubungi Ian dari tadi siang. Diambilnya ponselnya dari dalam tas lalu dihubunginya nomor Ian. Senyumnya merekah tanda tak sabaran.

"Halo, Ian. Kamu di mana? Sudah sampai?"

Keningnya berkerut sedikit.

"Ian?" panggilnya lagi.

Seketika, air mukanya berubah total. Ia menarik ponselnya dari sisi wajahnya lalu memutuskan telepon. Rautnya menggambarkan ekspresi antara bingung, takut, dan sedih. Air matanya pun pecah, tak kuat menahan gejolak perasaan yang tiba-tiba menghantam rongga dadanya. Ia berusaha menghentikan tangisnya dan meraih kembali ponselnya. Dihubunginya kembali nomor kekasihnya itu, untuk kembali memastikan apa yang baru saja didengarnya.

"Ian di mana? Kamu siapa?!" 

Tubuhnya tiba-tiba kaku, pandangannya menjadi kabur, dan ia tak sadarkan diri.

***

"Kamu bantu Ian, ya. Dia mau jadi seniman terkenal! Jangan nakal. Jangan mudah patah, apalagi sampai tidak nyata." Perempuan itu terkekeh, lalu bicara lagi, "Iya, ya. Tak mungkin kamu tidak nyata. Pokoknya kamu harus jadi pensil yang baik biar Ian bisa menggambar yang bagus. Nanti kuminta dia gambar wajahku."

Perempuan itu kemudian meletakkanku dengan hati-hati di sisi teman-temanku yang lain. Lalu, tiba-tiba semuanya gelap.

Tubuhku terguncang pelan. Saat itu aku tahu, perempuan itu sedang mendekap bungkusan yang berisi aku, di dalam taksi online yang ia naiki untuk menuju bandara. Andai aku manusia dan sebesar dia, pasti sudah kudekap balik. Perempuan itu namanya Dea, perempuan yang sejak satu bulan lalu membeli aku--dan teman-temanku--dari toko buku. Perempuan yang senyum manisnya berhasil membuatku, yang bukan manusia ini, jatuh cinta. Sayang, aku ternyata akan diberikan untuk kekasihnya. Tak apa. Sebulan memandangi senyum dan bahagia-bahagianya yang lain rasanya sudah cukup buatku. Meski kadang sakit juga melihat dia malam-malam menangis sendirian karena ingat akan segera berpisah jarak dengan kekasihnya itu.

"Terima kasih ya, Pak. Hati-hati!"

Sepertinya kami sudah sampai bandara karena di luar jadi berisik sekali. Dea masih mendekapku erat-erat. Di antara ramai-ramai di luar, sepertinya aku menangkap debar jantung yang tak biasa dari perempuan kesayanganku ini.

"Ian!" Kudengar Dea berteriak.

Tubuhku berguncang lebih hebat lagi. Sepertinya ia berlari untuk menghampiri kekasihnya. Aku tak bisa lihat apa-apa. Kesal sekali rasanya.

Terlalu banyak yang mereka bicarakan sebelum tiba saatnya Ian harus segera check-in pesawat. Aku terlalu sibuk memikirkan akan digunakan untuk menggambar apa nantinya aku. Aku sungguh tak sabar untuk sampai pada giliran Ian menggambar wajah Dea. Sungguh, aku pasti akan jadi pensil paling bahagia di dunia.

Semuanya berjalan begitu cepat karena tiba-tiba pendengaranku sakit sekali, tanda sudah ada di dalam pesawat dan sudah di atas awan. Sebaiknya, aku tidur saja.

Secercah sinar menyilaukan penglihatanku yang sejak tadi pagi gelap. Dari celah asal datangnya sinar, kulihat samar-samar wajah seorang laki-laki yang kukenali dari foto di meja belajar Dea. Laki-laki itu Ian. Wajahnya tak menyiratkan apapun setelah semua bungkusan terlepas dari tempatnya. Bahagia? Tidak sama sekali. Ian lantas mengambilku, memandangiku sebentar, lalu meletakkanku kembali ke dalam kotak dengan tak acuh.

"Kamu di mana? Aku sudah sampai di hotel."

"Oh. Sebentar lagi aku ke sana. Tunggu, ya."

Kulihat Ian berbicara di telepon. Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar. Saat ia membuka pintu tadi, kulihat langit sudah gelap. Aku sudah cukup tidur tadi, jadi tak mengantuk lagi. Akhirnya aku mengkhayal saja, memikirkan bagaimana cara agar bisa memasuki pikiran Ian dan menghasutnya menggambar hal-hal yang aku inginkan. Misalnya, menggambar Dea. Aku terkekeh pelan.

Selang beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Ian masuk diikuti oleh sesosok perempuan di belakangnya. Mereka berdua tampak bahagia. Setelah pintu tertutup, kulihat Ian memeluk perempuan itu lekat-lekat. Perempuan itu bukan kekasih Ian. Bukan Deaku tersayang.

Aku memejamkan mataku dan berusaha menutup telingaku dari suara apapun yang terdengar dari mereka berdua. Aku tak berani membayangkan akan sesakit apa Deaku saat mengetahui hal ini. Aku tak tahu berapa lama aku memejamkan mata saat akhirnya kudengar suara pintu kamar mandi tertutup. Hatiku bergemuruh. Aku mencoba membuka mataku dan mendapati perempuan itu--perempuan jalang itu-- tengah duduk di sisi kasur, mengenakan kemeja yang tadi Ian pakai.

Perempuan itu kemudian menghampiri meja tempatku berada. Ia meraih kertas berisi surat dari Dea untuk Ian. Ia mendengus dan melemparkan surat itu ke tempat sampah di sisi kamar mandi. Kulihat Ian keluar dari kamar mandi dan berdiri di sisi perempuan itu, di hadapanku.

"Aku tak suka," kata perempuan itu.

Lantas ia mengambilku dari dalam kotak dan melemparkannya ke dalam tempat sampah. Perempuan itu melempar terlalu kencang. Aku malah masuk ke kamar mandi dan diam di sana. Aku benar-benar marah sekali, tapi tak lagi bisa lihat apa-apa. Deaku dikhianati kekasihnya di depan mataku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa! Aku merutuk dalam hati banyak-banyak. Tubuhku rasanya panas sekali, seperti terbakar. Apa begini rasanya kalau seonggok pensil merasakan amarah yang amat besar? Air mataku pun meleleh juga. Aku bahkan tak bisa hanya sekadar mengepalkan tangan untuk mengekspresikan amarahku.

Eh? Air mata?

Aku mengusap air mataku, memastikan apa itu benar-benar air mata.

Tunggu dulu .... Aku punya tangan? Oh, Tuhan. Aku punya anggota tubuh! Seperti manusia!

Di tengah keterkejutanku, aku mencoba berdiri dan beranjak menuju ke depan cermin. Ini nyata--aku berwujud manusia.

Di antara derum suara mesin pendingin ruangan, aku teringat kembali dengan laki-laki sialan yang sudah mengkhianati Deaku. Diam-diam, aku masuk ke dalam kamar. Kulihat mereka berdua sudah tidur, berpelukan dibalut selimut hotel yang tampaknya hangat. 

Apa-apaan mereka.

Aku kalut. Aku tak tahu amarah macam apa yang mendorongku sampai ketika aku mendengar suara dering ponsel dari meja kecil di sisi kasur. Lantas aku tersadar dan mendapati warna selimut tak lagi putih bersih dan tanganku telah basah bersama sebilah pisau buah di kananku.

Aku mundur beberapa langkah dari kasur dan meraih ponsel milik Ian yang masih berdering. Aku memutuskan untuk mengangkatnya.

"Halo, Ian. Kamu di mana? Sudah sampai?"

Aku terdiam. Itu suara Dea di ujung telepon. Napasku masih tersenggal.

"Ian?"

"Ian dan perempuan jalangnya itu habis tidur berdua di hotel. Dia selingkuh, Dea."

Aku tak percaya suaraku benar-benar keluar. Tak kudengar suara balasan dari ujung telepon satunya. Lalu, tiba-tiba telepon terputus. Tak berapa lama, telepon Ian berdering kembali dan aku kembali mengangkatnya.

"Ian di mana? Kamu siapa?!" 

"Ini aku, pensilmu. Ian? Aku membunuhnya--membunuh mereka."
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
"Mama sama Ayah pergi dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah Andi. Jangan nakal dan jangan menyusahkan Nin Dewi."

Aku mengangguk. Setelah mobil Ayah melenggang pergi, aku dan Andi bergegas masuk ke dalam rumah, tepatnya ke kamar Andi. Hari ini adalah hari Sabtu dan besok sekolah kami libur, sebagaimana biasanya. Bedanya, hari ini sampai besok aku akan menginap di rumah Andi karena Ayah dan Mama harus ke rumah Bibi Anum. Aku tak boleh ikut. Urusan orang dewasa, katanya.

"Jadi, kita mau main apa?" tanya Andi sesaat setelah aku merebahkan tubuhku di kasur miliknya.

"Ke empang? Memancing?"

"Ayo!"

Kami pun bergegas keluar. Kulihat Nin Dewi sedang duduk di kursi goyang sambil mendengarkan radio tua miliknya. Matanya menatap lurus ke depan dengan tenang. Nin Dewi ini termasuk salah satu yang dituakan di kampung kami. Meski sudah sepuh, beliau masih tampak sehat dan cantik, setidaknya untuk ukuran nenek-nenek. Apalagi kalau sedang tersenyum. Ramah sekali. Sekampung kami sangat menyukainya, meski kadang cerewet juga. Untungnya, kami berdua sudah makan siang, jadi Nin Dewi tak akan ripuh menyuruh kami makan.

*

"Hei, kamu dengar itu?" tanyaku pada Andi.

Andi yang sedang bercerita langsung terdiam dan tampak menajamkan pendengarannya. Aku sekali lagi berusaha mendengarkan dengan lebih seksama. Sayup-sayup suara melengking yang lemah bersahut-sahutan terdengar dari salah satu sisi empang.

Andi menatapku dan aku langsung mengerti apa maksudnya. Kami meninggalkan alat pancing kami dan mencari-cari sumber suara. Saat berjalan menyusuri empang, suara yang kami dengar semakin jelas. Kami mendekati salah satu pohon singkong tempat suara itu berasal.

"Anak kucing," ucapku. "Tiga anak kucing."

"Lucu, ya. Di mana induknya?"

Aku mengangkat bahuku, tidak tahu.

"Ndi, ayo pulang saja."

Andi tak menghiraukan ajakanku. Ia sepertinya hendak menunggu sampai induk mereka datang dan aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Lama kami menunggu tapi sang induk tak juga datang. Wajah Andi tampak sedih melihat anak-anak kucing itu mengeong terus-menerus. Sementara aku, masih khawatir.

"Aku mau pelihara," kata Andi.

Aku menatap Andi. Dia harusnya tahu. Kami semua di kampung ini tahu kalau anak kucing tak berinduk tak boleh dipelihara di kampung ini. Tidak boleh dibunuh juga. Kalau ketemu, harus dipindahkan ke tempat yang jauh dari rumah warga. Sepertinya seseorang sengaja meletakkannya di sini. Kata nenekku, dari zaman dulu sudah begitu. Tak boleh dilanggar. Nanti sekampung bisa kena sial.

"Tapi, Ndi ...."

Andi tertawa. Sepertinya ia menangkap kekhawatiran dari raut wajahku.

"Bar, serius, deh. Kamu percaya kata orang-orang, ya? Kamu tidak kasihan sama anak kucing ini?"

Aku ingin mendebat lagi, tapi tak jadi. Bisa-bisa Andi tambah mengejekku dan memberitahukannya ke teman-teman. Akhirnya, mau tak mau aku pun membantu Andi mengangkat kardus berisi anak-anak kucing itu dan membawanya ke arah rumahnya. Untungnya, anak-anak kucing itu tak lagi berisik saat kami gotong menuju rumah Andi.

Di sana, Andi menaruh mereka di semak-semak dekat pohon singkong yang tumbuh di halaman belakang rumahnya. Diam-diam ia masuk ke dalam rumah dan kembali dengan beberapa lembar kain bekas serta susu hangat. Ia menyelipkan kain-kain itu di sela-sela kosong dalam kardus dan memberi anak-anak kucing itu susu hangat. Andi tahu neneknya tak akan mengizinkan dia memelihara anak-anak kucing itu jadi sebisa mungkin ia letakkan di tempat yang cukup tersembunyi. Ia tahu betapa keras sang nenek kalau tahu ia melanggar hal-hal semacam ini.

Setelah memastikan mereka tertidur, kami berjalan masuk ke dalam rumah.

"Anwar dan yang lainnya mengajak main layangan nanti sore. Kebetulan kemarin aku sudah beli dua sekalian benangnya. Ikut?" tanya Andi padaku.

"Yuk."

*

Matahari sudah hampir tak terlihat lagi wujudnya saat aku dan Andi memutuskan untuk pulang. Tak boleh sampai magrib. Tabu berada di luar ketika magrib. Sesampainya di rumah, Andi langsung menutup semua pintu dan jendela  lalu menuju kamarnya untuk menyimpan layang-layang. Aku menuju kamar mandi untuk cuci kaki. Saat keluar, gantian Andi yang menggunakan kamar mandi. Aku menuju kamar Andi sambil menunggunya. Tadi di dapur aku tak melihat Nin Dewi, padahal beberapa masakan tampak belum selesai dimasak. Sepertinya ia sedang ke kamarnya. Aku lapar, tapi sepertinya masih harus menunggu sampai makan malam siap.

Saat sedang merebahkan diri di kasur, kudengar sayup-sayup suara mengeong anak-anak kucing dari teras belakang. Seingatku, sore tadi Andi sudah memberi susu untuk mereka. Andi tiba-tiba masuk kamar.

"Kucingnya," katanya sambil berbisik. Raut wajahnya khawatir. Mungkin ia takut Nin Dewi tahu.

Sepertinya mereka terbangun lagi. Andi mengajakku untuk menuju ke dapur dan menyiapkan susu untuk kucing-kucing kecil itu. Andi meyakinkanku kalau neneknya tak akan keluar kamar sampai pukul tujuh malam nanti. Sudah biasa begitu, katanya.

Aku pun membawa susu yang sudah disiapkan menuju teras belakang. Saat hendak membuka pintu teras, aku ingat kalau tidak boleh keluar rumah magrib-magrib begini. 

Ah, siapa peduli. Kalau anak-anak kucing itu mati, bagaimana?

Aku memaksa diriku keluar meski sebenarnya aku ketakutan. Andi sudah berjalan keluar duluan. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di sisi tembok yang menghalangi teras dari kebun belakang. Aku menyusulnya. Mataku terbelalak. Dari balik tembok, di antara pohon singkong yang ditanam di kebun belakang, kulihat sesosok wanita berjongkok membelakangi kami. Aku ingat, anak-anak kucing itu ada di sana.

Jantungku rasanya mau copot saat wanita itu berhenti dengan aktivitasnya dan menoleh ke belakang. 

Nin Dewi, dengan bola matanya yang tinggal warna putih tersisa, menatap ke arah kami dengan tangan dan mulut berlumur darah.

Darah anak kucing.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Gerumul awan seputih kapas mengambang lembut di atas, membayangi setiap langkah yang menghantar orang-orang menuju tujuan mereka. Kulihat, mereka semua tersenyum hari ini. Entah karena ada kabar baik atau karena matahari sedang lembut-lembutnya berpendar pagi ini. Jakarta yang biasanya panas, terasa sedikit lebih sejuk. Langit sedang teramat biru dan cuitan para burung terdengar amat membahagiakan.

Aku tersenyum. Hari ini hari Sabtu pertama di bulan Januari. Itu artinya kita akan bertemu lagi sebagaimana bulan-bulan sebelumnya. Ah, aku ingin berjingkrak dan menari-nari ke sekeliling taman ini, tapi malu juga kalau dilihat orang-orang. Jadi, aku cuma menggoyang-goyangkan kakiku dengan semangat. Aku tidak sabar dan benar-benar berdebar. Sejak kita berhubungan jarak jauh setahun yang lalu, aku selalu sebahagia ini setiap akan bertemu kamu. Boleh, kan? Aku sudah sebulan memupuk rindu sampai benar-benar penuh.

Jantungku ingin copot rasanya ketika melihat sesosok laki-laki berkacamata dengan kemeja hitam menghampiriku sambil tersenyum. Aku melambai-lambai dengan semangat. Kamu, sambil malu-malu, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kertas yang kamu tenteng dan memberikannya padaku. Buket bunga mawar kesukaanku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kamu hadiahi aku bunga. Ingin aku melompat dan memelukmu erat tapi lagi-lagi aku malu kalau orang-orang lihat.

"Kamu sudah makan?" tanyaku.

"Tadi aku berangkat dari subuh."

"Ih, tidak nyambung!" aku menggerutu.

Bukannya menanggapi aku, kamu malah bercerita tentang banyak hal. Tentang bosmu yang menyebalkan dengan setumpuk kerjaan dadakannya; tentang Cimut, kucingmu, yang sempat sakit dan kemarin sudah kamu jemput pulang; tentang proyek-proyek sampingan yang suka kamu kerjakan sampai tengah malam demi menambah uang jajan; tentang laptopmu yang belum juga selesai diperbaiki padahal sudah lewat dua minggu. Tak apa, wajahmu lucu ketika sedang bercerita begitu. Ingin aku cubit, tapi aku malah tertawa terus sampai tak sempat. Gemas sekali rasanya.

"Sebelum berangkat tadi, Bunda bertanya tentang kamu."

"Kamu tidak bilang yang aneh-aneh pada Bunda, kan?" Aku mendelik.

"Aku bilang, kamu baik, bersih, dan wangi seperti biasanya."

"Bagus."

Kamu tiba-tiba terdiam cukup lama. Aku tak suka kalau saling diam begini. Aku mau bicara tapi tak banyak juga yang bisa kuceritakan.

"Sayang ...," 

Kamu akhirnya membuka suara. 

"Minggu depan aku akan menikah dengan orang lain."

Aku tertegun. Dunia rasanya runtuh di sekelilingku. Dadaku merasakan nyeri yang teramat sangat. Sesak sekali sampai mual rasanya. Aku marah, sangat marah. Aku ingin berteriak, memaki, dan memukulmu saat itu juga. Namun, yang akhirnya kulakukan hanyalah menangis.

Kamu menghela napas panjang. Raut sedihmu kabur di pandanganku, terhalang bulir air mata yang tak kunjung habis.

"Maaf," bisikmu lirih, seperti tercekat menahan tangis agar tidak tumpah.

Kulihat kamu memejam dan menyampaikan doa terakhir, mengusap nisanku pelan, lalu melenggang pergi meninggalkan aku yang tak juga bisa menghentikan tangis.

*

Kata mereka, jarak terjauh itu ketika dua insan saling mencinta tapi berbeda keyakinannya akan Tuhan. Sepertinya, mereka belum pernah menjadi kita.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Hai, kamu pengunjung ke-

Tentang Aku

Nihan Ufaira

Lebih suka sendiri, tapi kalau ramai asik juga. Suka jus dan susu. Kalau kopi bikin sakit perut, tapi suka juga, yang penting udah makan. Suka jalan-jalan, meskipun lebih banyak rebahan. Suka apa lagi, ya? Coba kita ngobrol dulu kali, ya?

Sosial

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Arsip

  • April 2025 (1)
  • December 2024 (2)
  • October 2023 (1)
  • February 2019 (2)
  • January 2019 (1)
  • December 2018 (2)
  • November 2018 (1)

Populer

  • Suara di Ujung Telepon
    Mata perempuan itu berbinar menatap satu kotak berisi set alat menggambar di tangannya. Rencananya, itu akan dijadikan sebagai hadiah untuk...
  • Penghujung Sore
    Riak ombak bergemuruh. Kilau kekuningannya menari-nari di antara jemari kakiku, lalu meluruh dengan cepat. Udara dari sisa angin laut yang ...
  • Sepeda
    Kamu tahu bagaimana menghadapi luka akibat putus cinta? Sini, mendekatlah. Biar kuberi tahu. Saat putus cinta, pelankan kayuhmu. Jangan te...
  • Anak Kucing
    "Mama sama Ayah pergi dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah Andi. Jangan nakal dan jangan menyusahkan Nin Dewi." Aku mengangguk. ...
  • Tentang Jarak
    Gerumul awan seputih kapas mengambang lembut di atas, membayangi setiap langkah yang menghantar orang-orang menuju tujuan mereka. Kulihat...

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates