Suara di Ujung Telepon

by - February 15, 2019

Mata perempuan itu berbinar menatap satu kotak berisi set alat menggambar di tangannya. Rencananya, itu akan dijadikan sebagai hadiah untuk kekasihnya yang sebentar lagi akan pindah ke luar kota demi melanjutkan studi. Diambilnya satu buah pensil dari dalam kotak dan ia pandangi seolah menatap permata yang ia ambil sendiri dari dasar gua paling berbahaya. Sepertinya, pensil itu salah satu favoritnya.

"Kamu bantu Ian, ya. Dia mau jadi seniman terkenal! Jangan nakal. Jangan mudah patah, apalagi sampai tidak nyata." Ia terkekeh sebentar, lalu bilang, "Iya, ya. Tak mungkin kamu tidak nyata. Pokoknya kamu harus jadi pensil yang baik biar Ian bisa menggambar yang bagus. Nanti kuminta dia gambar wajahku."

Dengan hati-hati dibungkusnya set alat menggambar itu dan diselipkannya selembar surat sebelum melapisinya kembali dengan kertas lainnya.

Ia melirik jam di meja belajarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.13. Pesawat Ian berangkat pukul 12.05. Ia harus berangkat sekarang kalau mau punya waku yang cukup lama untuk berbincang dengan Ian. Setelah memesan taksi online dan merapikan kembali dandanannya di depan cermin, ia pun berangkat.

Perempuan itu bernama Dea. Gadis yang dalam dua bulan ke depan akan genap berumur 20 tahun. Kulitnya yang berwarna kuning langsat dan bercahaya, mata berwarna coklat terang yang tampak selalu berbinar, serta lesung pipi yang dalam dan manis membuat siapa pun takkan bosan memandanginya lama-lama. Apalagi kalau sudah bicara dan tertawa. Siapa pun pasti jatuh cinta.

"Terima kasih ya, Pak. Hati-hati!"

Perempuan itu sudah sampai di bandara. Sesekali diperiksanya kembali ponselnya, memastikan posisi Ian di bandara. Tak berapa lama, akhirnya ditemukannya kekasihnya itu.

"Ian!" serunya.

Dihampirinya laki-laki berkacamata yang mengenakan kemeja merah kotak-kotak, lalu dipeluknya erat-erat. Mereka lalu duduk di kursi tunggu bandara. Mereka membicarakan banyak sekali hal sebelum akhirnya suara wanita di pengeras suara memberitahukan bahwa pesawat yang akan Ian tumpangi akan diberangkatkan.

Ian memeluk perempuannya dan memberikan kecupan terakhir di kening dan pipinya, lantas melangkah menuju area check-in.

Dea memutuskan untuk pergi setelah memastikan Ian berhasil check-in dan masuk ke dalam pesawat. Siang ini ia ada janji dengan teman-temannya untuk mengerjakan tugas kuliah pengamatan di perusahaan pembuatan sepatu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.46 saat Dea akhirnya sampai di rumahnya. Ia tiba-tiba teringat kalau ia belum menghubungi Ian dari tadi siang. Diambilnya ponselnya dari dalam tas lalu dihubunginya nomor Ian. Senyumnya merekah tanda tak sabaran.

"Halo, Ian. Kamu di mana? Sudah sampai?"

Keningnya berkerut sedikit.

"Ian?" panggilnya lagi.

Seketika, air mukanya berubah total. Ia menarik ponselnya dari sisi wajahnya lalu memutuskan telepon. Rautnya menggambarkan ekspresi antara bingung, takut, dan sedih. Air matanya pun pecah, tak kuat menahan gejolak perasaan yang tiba-tiba menghantam rongga dadanya. Ia berusaha menghentikan tangisnya dan meraih kembali ponselnya. Dihubunginya kembali nomor kekasihnya itu, untuk kembali memastikan apa yang baru saja didengarnya.

"Ian di mana? Kamu siapa?!" 

Tubuhnya tiba-tiba kaku, pandangannya menjadi kabur, dan ia tak sadarkan diri.

***

"Kamu bantu Ian, ya. Dia mau jadi seniman terkenal! Jangan nakal. Jangan mudah patah, apalagi sampai tidak nyata." Perempuan itu terkekeh, lalu bicara lagi, "Iya, ya. Tak mungkin kamu tidak nyata. Pokoknya kamu harus jadi pensil yang baik biar Ian bisa menggambar yang bagus. Nanti kuminta dia gambar wajahku."

Perempuan itu kemudian meletakkanku dengan hati-hati di sisi teman-temanku yang lain. Lalu, tiba-tiba semuanya gelap.

Tubuhku terguncang pelan. Saat itu aku tahu, perempuan itu sedang mendekap bungkusan yang berisi aku, di dalam taksi online yang ia naiki untuk menuju bandara. Andai aku manusia dan sebesar dia, pasti sudah kudekap balik. Perempuan itu namanya Dea, perempuan yang sejak satu bulan lalu membeli aku--dan teman-temanku--dari toko buku. Perempuan yang senyum manisnya berhasil membuatku, yang bukan manusia ini, jatuh cinta. Sayang, aku ternyata akan diberikan untuk kekasihnya. Tak apa. Sebulan memandangi senyum dan bahagia-bahagianya yang lain rasanya sudah cukup buatku. Meski kadang sakit juga melihat dia malam-malam menangis sendirian karena ingat akan segera berpisah jarak dengan kekasihnya itu.

"Terima kasih ya, Pak. Hati-hati!"

Sepertinya kami sudah sampai bandara karena di luar jadi berisik sekali. Dea masih mendekapku erat-erat. Di antara ramai-ramai di luar, sepertinya aku menangkap debar jantung yang tak biasa dari perempuan kesayanganku ini.

"Ian!" Kudengar Dea berteriak.

Tubuhku berguncang lebih hebat lagi. Sepertinya ia berlari untuk menghampiri kekasihnya. Aku tak bisa lihat apa-apa. Kesal sekali rasanya.

Terlalu banyak yang mereka bicarakan sebelum tiba saatnya Ian harus segera check-in pesawat. Aku terlalu sibuk memikirkan akan digunakan untuk menggambar apa nantinya aku. Aku sungguh tak sabar untuk sampai pada giliran Ian menggambar wajah Dea. Sungguh, aku pasti akan jadi pensil paling bahagia di dunia.

Semuanya berjalan begitu cepat karena tiba-tiba pendengaranku sakit sekali, tanda sudah ada di dalam pesawat dan sudah di atas awan. Sebaiknya, aku tidur saja.

Secercah sinar menyilaukan penglihatanku yang sejak tadi pagi gelap. Dari celah asal datangnya sinar, kulihat samar-samar wajah seorang laki-laki yang kukenali dari foto di meja belajar Dea. Laki-laki itu Ian. Wajahnya tak menyiratkan apapun setelah semua bungkusan terlepas dari tempatnya. Bahagia? Tidak sama sekali. Ian lantas mengambilku, memandangiku sebentar, lalu meletakkanku kembali ke dalam kotak dengan tak acuh.

"Kamu di mana? Aku sudah sampai di hotel."

"Oh. Sebentar lagi aku ke sana. Tunggu, ya."

Kulihat Ian berbicara di telepon. Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar. Saat ia membuka pintu tadi, kulihat langit sudah gelap. Aku sudah cukup tidur tadi, jadi tak mengantuk lagi. Akhirnya aku mengkhayal saja, memikirkan bagaimana cara agar bisa memasuki pikiran Ian dan menghasutnya menggambar hal-hal yang aku inginkan. Misalnya, menggambar Dea. Aku terkekeh pelan.

Selang beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Ian masuk diikuti oleh sesosok perempuan di belakangnya. Mereka berdua tampak bahagia. Setelah pintu tertutup, kulihat Ian memeluk perempuan itu lekat-lekat. Perempuan itu bukan kekasih Ian. Bukan Deaku tersayang.

Aku memejamkan mataku dan berusaha menutup telingaku dari suara apapun yang terdengar dari mereka berdua. Aku tak berani membayangkan akan sesakit apa Deaku saat mengetahui hal ini. Aku tak tahu berapa lama aku memejamkan mata saat akhirnya kudengar suara pintu kamar mandi tertutup. Hatiku bergemuruh. Aku mencoba membuka mataku dan mendapati perempuan itu--perempuan jalang itu-- tengah duduk di sisi kasur, mengenakan kemeja yang tadi Ian pakai.

Perempuan itu kemudian menghampiri meja tempatku berada. Ia meraih kertas berisi surat dari Dea untuk Ian. Ia mendengus dan melemparkan surat itu ke tempat sampah di sisi kamar mandi. Kulihat Ian keluar dari kamar mandi dan berdiri di sisi perempuan itu, di hadapanku.

"Aku tak suka," kata perempuan itu.

Lantas ia mengambilku dari dalam kotak dan melemparkannya ke dalam tempat sampah. Perempuan itu melempar terlalu kencang. Aku malah masuk ke kamar mandi dan diam di sana. Aku benar-benar marah sekali, tapi tak lagi bisa lihat apa-apa. Deaku dikhianati kekasihnya di depan mataku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa! Aku merutuk dalam hati banyak-banyak. Tubuhku rasanya panas sekali, seperti terbakar. Apa begini rasanya kalau seonggok pensil merasakan amarah yang amat besar? Air mataku pun meleleh juga. Aku bahkan tak bisa hanya sekadar mengepalkan tangan untuk mengekspresikan amarahku.

Eh? Air mata?

Aku mengusap air mataku, memastikan apa itu benar-benar air mata.

Tunggu dulu .... Aku punya tangan? Oh, Tuhan. Aku punya anggota tubuh! Seperti manusia!

Di tengah keterkejutanku, aku mencoba berdiri dan beranjak menuju ke depan cermin. Ini nyata--aku berwujud manusia.

Di antara derum suara mesin pendingin ruangan, aku teringat kembali dengan laki-laki sialan yang sudah mengkhianati Deaku. Diam-diam, aku masuk ke dalam kamar. Kulihat mereka berdua sudah tidur, berpelukan dibalut selimut hotel yang tampaknya hangat. 

Apa-apaan mereka.

Aku kalut. Aku tak tahu amarah macam apa yang mendorongku sampai ketika aku mendengar suara dering ponsel dari meja kecil di sisi kasur. Lantas aku tersadar dan mendapati warna selimut tak lagi putih bersih dan tanganku telah basah bersama sebilah pisau buah di kananku.

Aku mundur beberapa langkah dari kasur dan meraih ponsel milik Ian yang masih berdering. Aku memutuskan untuk mengangkatnya.

"Halo, Ian. Kamu di mana? Sudah sampai?"

Aku terdiam. Itu suara Dea di ujung telepon. Napasku masih tersenggal.

"Ian?"

"Ian dan perempuan jalangnya itu habis tidur berdua di hotel. Dia selingkuh, Dea."

Aku tak percaya suaraku benar-benar keluar. Tak kudengar suara balasan dari ujung telepon satunya. Lalu, tiba-tiba telepon terputus. Tak berapa lama, telepon Ian berdering kembali dan aku kembali mengangkatnya.

"Ian di mana? Kamu siapa?!" 

"Ini aku, pensilmu. Ian? Aku membunuhnya--membunuh mereka."

You May Also Like

3 comments

  1. wah... ide ceritanya menarik banget. pensilnya bisa berubah jadi manusia...

    ReplyDelete
  2. Aanjiirrr kereenn bangeeett.. Selamatttt 🙏🙏🙌

    ReplyDelete