Nihan Ufaira Rizagana. Powered by Blogger.
facebook twitter instagram Email

Tepian Berawan

"Mama sama Ayah pergi dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah Andi. Jangan nakal dan jangan menyusahkan Nin Dewi."

Aku mengangguk. Setelah mobil Ayah melenggang pergi, aku dan Andi bergegas masuk ke dalam rumah, tepatnya ke kamar Andi. Hari ini adalah hari Sabtu dan besok sekolah kami libur, sebagaimana biasanya. Bedanya, hari ini sampai besok aku akan menginap di rumah Andi karena Ayah dan Mama harus ke rumah Bibi Anum. Aku tak boleh ikut. Urusan orang dewasa, katanya.

"Jadi, kita mau main apa?" tanya Andi sesaat setelah aku merebahkan tubuhku di kasur miliknya.

"Ke empang? Memancing?"

"Ayo!"

Kami pun bergegas keluar. Kulihat Nin Dewi sedang duduk di kursi goyang sambil mendengarkan radio tua miliknya. Matanya menatap lurus ke depan dengan tenang. Nin Dewi ini termasuk salah satu yang dituakan di kampung kami. Meski sudah sepuh, beliau masih tampak sehat dan cantik, setidaknya untuk ukuran nenek-nenek. Apalagi kalau sedang tersenyum. Ramah sekali. Sekampung kami sangat menyukainya, meski kadang cerewet juga. Untungnya, kami berdua sudah makan siang, jadi Nin Dewi tak akan ripuh menyuruh kami makan.

*

"Hei, kamu dengar itu?" tanyaku pada Andi.

Andi yang sedang bercerita langsung terdiam dan tampak menajamkan pendengarannya. Aku sekali lagi berusaha mendengarkan dengan lebih seksama. Sayup-sayup suara melengking yang lemah bersahut-sahutan terdengar dari salah satu sisi empang.

Andi menatapku dan aku langsung mengerti apa maksudnya. Kami meninggalkan alat pancing kami dan mencari-cari sumber suara. Saat berjalan menyusuri empang, suara yang kami dengar semakin jelas. Kami mendekati salah satu pohon singkong tempat suara itu berasal.

"Anak kucing," ucapku. "Tiga anak kucing."

"Lucu, ya. Di mana induknya?"

Aku mengangkat bahuku, tidak tahu.

"Ndi, ayo pulang saja."

Andi tak menghiraukan ajakanku. Ia sepertinya hendak menunggu sampai induk mereka datang dan aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Lama kami menunggu tapi sang induk tak juga datang. Wajah Andi tampak sedih melihat anak-anak kucing itu mengeong terus-menerus. Sementara aku, masih khawatir.

"Aku mau pelihara," kata Andi.

Aku menatap Andi. Dia harusnya tahu. Kami semua di kampung ini tahu kalau anak kucing tak berinduk tak boleh dipelihara di kampung ini. Tidak boleh dibunuh juga. Kalau ketemu, harus dipindahkan ke tempat yang jauh dari rumah warga. Sepertinya seseorang sengaja meletakkannya di sini. Kata nenekku, dari zaman dulu sudah begitu. Tak boleh dilanggar. Nanti sekampung bisa kena sial.

"Tapi, Ndi ...."

Andi tertawa. Sepertinya ia menangkap kekhawatiran dari raut wajahku.

"Bar, serius, deh. Kamu percaya kata orang-orang, ya? Kamu tidak kasihan sama anak kucing ini?"

Aku ingin mendebat lagi, tapi tak jadi. Bisa-bisa Andi tambah mengejekku dan memberitahukannya ke teman-teman. Akhirnya, mau tak mau aku pun membantu Andi mengangkat kardus berisi anak-anak kucing itu dan membawanya ke arah rumahnya. Untungnya, anak-anak kucing itu tak lagi berisik saat kami gotong menuju rumah Andi.

Di sana, Andi menaruh mereka di semak-semak dekat pohon singkong yang tumbuh di halaman belakang rumahnya. Diam-diam ia masuk ke dalam rumah dan kembali dengan beberapa lembar kain bekas serta susu hangat. Ia menyelipkan kain-kain itu di sela-sela kosong dalam kardus dan memberi anak-anak kucing itu susu hangat. Andi tahu neneknya tak akan mengizinkan dia memelihara anak-anak kucing itu jadi sebisa mungkin ia letakkan di tempat yang cukup tersembunyi. Ia tahu betapa keras sang nenek kalau tahu ia melanggar hal-hal semacam ini.

Setelah memastikan mereka tertidur, kami berjalan masuk ke dalam rumah.

"Anwar dan yang lainnya mengajak main layangan nanti sore. Kebetulan kemarin aku sudah beli dua sekalian benangnya. Ikut?" tanya Andi padaku.

"Yuk."

*

Matahari sudah hampir tak terlihat lagi wujudnya saat aku dan Andi memutuskan untuk pulang. Tak boleh sampai magrib. Tabu berada di luar ketika magrib. Sesampainya di rumah, Andi langsung menutup semua pintu dan jendela  lalu menuju kamarnya untuk menyimpan layang-layang. Aku menuju kamar mandi untuk cuci kaki. Saat keluar, gantian Andi yang menggunakan kamar mandi. Aku menuju kamar Andi sambil menunggunya. Tadi di dapur aku tak melihat Nin Dewi, padahal beberapa masakan tampak belum selesai dimasak. Sepertinya ia sedang ke kamarnya. Aku lapar, tapi sepertinya masih harus menunggu sampai makan malam siap.

Saat sedang merebahkan diri di kasur, kudengar sayup-sayup suara mengeong anak-anak kucing dari teras belakang. Seingatku, sore tadi Andi sudah memberi susu untuk mereka. Andi tiba-tiba masuk kamar.

"Kucingnya," katanya sambil berbisik. Raut wajahnya khawatir. Mungkin ia takut Nin Dewi tahu.

Sepertinya mereka terbangun lagi. Andi mengajakku untuk menuju ke dapur dan menyiapkan susu untuk kucing-kucing kecil itu. Andi meyakinkanku kalau neneknya tak akan keluar kamar sampai pukul tujuh malam nanti. Sudah biasa begitu, katanya.

Aku pun membawa susu yang sudah disiapkan menuju teras belakang. Saat hendak membuka pintu teras, aku ingat kalau tidak boleh keluar rumah magrib-magrib begini. 

Ah, siapa peduli. Kalau anak-anak kucing itu mati, bagaimana?

Aku memaksa diriku keluar meski sebenarnya aku ketakutan. Andi sudah berjalan keluar duluan. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di sisi tembok yang menghalangi teras dari kebun belakang. Aku menyusulnya. Mataku terbelalak. Dari balik tembok, di antara pohon singkong yang ditanam di kebun belakang, kulihat sesosok wanita berjongkok membelakangi kami. Aku ingat, anak-anak kucing itu ada di sana.

Jantungku rasanya mau copot saat wanita itu berhenti dengan aktivitasnya dan menoleh ke belakang. 

Nin Dewi, dengan bola matanya yang tinggal warna putih tersisa, menatap ke arah kami dengan tangan dan mulut berlumur darah.

Darah anak kucing.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Gerumul awan seputih kapas mengambang lembut di atas, membayangi setiap langkah yang menghantar orang-orang menuju tujuan mereka. Kulihat, mereka semua tersenyum hari ini. Entah karena ada kabar baik atau karena matahari sedang lembut-lembutnya berpendar pagi ini. Jakarta yang biasanya panas, terasa sedikit lebih sejuk. Langit sedang teramat biru dan cuitan para burung terdengar amat membahagiakan.

Aku tersenyum. Hari ini hari Sabtu pertama di bulan Januari. Itu artinya kita akan bertemu lagi sebagaimana bulan-bulan sebelumnya. Ah, aku ingin berjingkrak dan menari-nari ke sekeliling taman ini, tapi malu juga kalau dilihat orang-orang. Jadi, aku cuma menggoyang-goyangkan kakiku dengan semangat. Aku tidak sabar dan benar-benar berdebar. Sejak kita berhubungan jarak jauh setahun yang lalu, aku selalu sebahagia ini setiap akan bertemu kamu. Boleh, kan? Aku sudah sebulan memupuk rindu sampai benar-benar penuh.

Jantungku ingin copot rasanya ketika melihat sesosok laki-laki berkacamata dengan kemeja hitam menghampiriku sambil tersenyum. Aku melambai-lambai dengan semangat. Kamu, sambil malu-malu, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kertas yang kamu tenteng dan memberikannya padaku. Buket bunga mawar kesukaanku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kamu hadiahi aku bunga. Ingin aku melompat dan memelukmu erat tapi lagi-lagi aku malu kalau orang-orang lihat.

"Kamu sudah makan?" tanyaku.

"Tadi aku berangkat dari subuh."

"Ih, tidak nyambung!" aku menggerutu.

Bukannya menanggapi aku, kamu malah bercerita tentang banyak hal. Tentang bosmu yang menyebalkan dengan setumpuk kerjaan dadakannya; tentang Cimut, kucingmu, yang sempat sakit dan kemarin sudah kamu jemput pulang; tentang proyek-proyek sampingan yang suka kamu kerjakan sampai tengah malam demi menambah uang jajan; tentang laptopmu yang belum juga selesai diperbaiki padahal sudah lewat dua minggu. Tak apa, wajahmu lucu ketika sedang bercerita begitu. Ingin aku cubit, tapi aku malah tertawa terus sampai tak sempat. Gemas sekali rasanya.

"Sebelum berangkat tadi, Bunda bertanya tentang kamu."

"Kamu tidak bilang yang aneh-aneh pada Bunda, kan?" Aku mendelik.

"Aku bilang, kamu baik, bersih, dan wangi seperti biasanya."

"Bagus."

Kamu tiba-tiba terdiam cukup lama. Aku tak suka kalau saling diam begini. Aku mau bicara tapi tak banyak juga yang bisa kuceritakan.

"Sayang ...," 

Kamu akhirnya membuka suara. 

"Minggu depan aku akan menikah dengan orang lain."

Aku tertegun. Dunia rasanya runtuh di sekelilingku. Dadaku merasakan nyeri yang teramat sangat. Sesak sekali sampai mual rasanya. Aku marah, sangat marah. Aku ingin berteriak, memaki, dan memukulmu saat itu juga. Namun, yang akhirnya kulakukan hanyalah menangis.

Kamu menghela napas panjang. Raut sedihmu kabur di pandanganku, terhalang bulir air mata yang tak kunjung habis.

"Maaf," bisikmu lirih, seperti tercekat menahan tangis agar tidak tumpah.

Kulihat kamu memejam dan menyampaikan doa terakhir, mengusap nisanku pelan, lalu melenggang pergi meninggalkan aku yang tak juga bisa menghentikan tangis.

*

Kata mereka, jarak terjauh itu ketika dua insan saling mencinta tapi berbeda keyakinannya akan Tuhan. Sepertinya, mereka belum pernah menjadi kita.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kamu tahu bagaimana menghadapi luka akibat putus cinta? Sini, mendekatlah. Biar kuberi tahu.

Saat putus cinta, pelankan kayuhmu. Jangan terburu-buru berhenti dan berbalik. Kakimu masih lemah untuk menjejak dan berbalik arah lalu mengayuh sendirian. Matamu masih kabur sebab air mata sedang penuh di pelupuk. Hatimu masih terlampau rapuh untuk sekadar disapa angin. Pelankan kayuhmu dengan tenang, tak apa meski sekali-kali gemetar.

Awalnya tepat di belakang. Pelankan kayuhmu sampai perbedaan jumlah kayuh membuahkan jarak, sampai ia tak sadar bahwa kamu sudah jauh di belakang. Tutup saja telingamu dari canda dan tawa mereka di depan. Jangan sok kuat dan memaksa membuka telinga demi mencuri dengar. Bisa-bisa egomu menguasai dan berbisik, "harusnya denganku ia bahagia", lalu kamu goyah dan jatuh dibuai amarah.

Jika ada yang tiba-tiba datang dan bilang ingin temani mengayuh, aku mohon acuhkan saja. Kamu belum mampu berdamai dengan hatimu. Bagaimana kamu akan mencinta saat hatimu sedang terluka? Bukannya sembuh, patahan hatimu justru akan melukainya. Lantas ia memilih pergi dan lukamu yang masih basah malah bertambah parah ditambah rasa bersalah. Tahan dirimu dan tolaklah ia dengan baik.

Nanti kamu akan takjub sendiri saat air matamu sudah kering sebab bosan bersua dengan lara, lalu hatimu sudah tak lagi basah oleh luka yang sempat berdarah-darah. Kamu sendiri pun tak sadar saat tiba-tiba kakimu sudah jadi sangat kuat untuk mengayuh sampai jauh tanpa terjatuh. Sendiri ternyata tak masalah, bukan? Sebab di sekelilingmu pemandangan sudah terlampau indah.

Setelahnya, baru kamu boleh persilakan hatimu untuk tersenyum pada sesiapa yang hendak membagi bahagianya denganmu, untuk kamu bagi pula bahagiamu dengannya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Riak ombak bergemuruh. Kilau kekuningannya menari-nari di antara jemari kakiku, lalu meluruh dengan cepat. Udara dari sisa angin laut yang kuhirup dalam-dalam, kuharap bisa menjernihkan.


Tuan,
Biar mawar hitamku kutitipkan padamu saja, ya
Bersama gemuruh angin yang membenturkan diri ke laut
Lalu yang merah kutenggelamkan saja
Di antara kilau pancaran senjamu
Yang kadang-kadang jadi ungu
Ah,
Tapi yang kubawa hanya rindu dan pilu
Sebab katanya, rindu yang kutanam di balik batu akan terkikis dan berlalu
Lantas pilu akan hilang jika kutitip pada pasir
Lenyap disapu ombak


Perutku terasa dingin. Sepertinya langkah pelanku tak sengaja mengarah ke laut. Eh, apa biar sekalian kubenamkan saja sebadan-badan? Tapi aku masih ingin dipeluk angin hingga ke ujung kaki. Meski pelukan angin tak sehangat lautan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Aku ini sebenarnya sudah tingkat akhir kuliah, sudah semester tujuh. Kamu tahu 'kan bagian tersulitnya apa? Betul. Skripsi. Pusing aku. Makanya harus menulis agar tetap waras.

Lho, beda, ya. Pokoknya beda dari menulis skripsi. Tanpa aku jelaskan harusnya kamu sudah mengerti, 'kan?

Di sini, aku tidak akan membahas skripsiku, kok. Bisa-bisa aku makin tidak waras. Niatku menulis ‘kan untuk kabur dari kenyataan, hehe. Aku memilih untuk menulis yang bikin aku senang--atau tenang. Tepatnya tentang apa, masih belum kuputuskan. Semoga tidak membosankan.

Jadi, selamat menikmati. Sudah kuperingatkan, ya. Aku menulis agar tetap waras. Entah apa nanti jadinya.


Salam,
nihanufaira
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Newer Posts

Hai, kamu pengunjung ke-

Tentang Aku

Nihan Ufaira

Lebih suka sendiri, tapi kalau ramai asik juga. Suka jus dan susu. Kalau kopi bikin sakit perut, tapi suka juga, yang penting udah makan. Suka jalan-jalan, meskipun lebih banyak rebahan. Suka apa lagi, ya? Coba kita ngobrol dulu kali, ya?

Sosial

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Arsip

  • April 2025 (1)
  • December 2024 (2)
  • October 2023 (1)
  • February 2019 (2)
  • January 2019 (1)
  • December 2018 (2)
  • November 2018 (1)

Populer

  • Suara di Ujung Telepon
    Mata perempuan itu berbinar menatap satu kotak berisi set alat menggambar di tangannya. Rencananya, itu akan dijadikan sebagai hadiah untuk...
  • Penghujung Sore
    Riak ombak bergemuruh. Kilau kekuningannya menari-nari di antara jemari kakiku, lalu meluruh dengan cepat. Udara dari sisa angin laut yang ...
  • Sepeda
    Kamu tahu bagaimana menghadapi luka akibat putus cinta? Sini, mendekatlah. Biar kuberi tahu. Saat putus cinta, pelankan kayuhmu. Jangan te...
  • Anak Kucing
    "Mama sama Ayah pergi dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah Andi. Jangan nakal dan jangan menyusahkan Nin Dewi." Aku mengangguk. ...
  • Tentang Jarak
    Gerumul awan seputih kapas mengambang lembut di atas, membayangi setiap langkah yang menghantar orang-orang menuju tujuan mereka. Kulihat...

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates